Masjid Al-Abror Kauman, Jejak Sejarah Islam dan Masjid Tertua di Sidoarjo

SIDOARJO, TotalMedia.ID – Berdiri di kawasan Kota Tua Kauman, Masjid Jami Al-Abror menyimpan riwayat panjang sebagai salah satu peninggalan bersejarah bagi perkembangan Islam di Sidoarjo. Berdasarkan dokumen sejarah yang disusun takmir masjid pada 2022, masjid ini diyakini didirikan pada 1678 Masehi. Tokoh di balik pendiriannya adalah seorang ulama sekaligus saudagar asal Mataram bernama Kiai Muljadi atau yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Mulyadi, seperti dicatat NU Online.
Kisah Mbah Mulyadi bermula ketika ia meninggalkan Mataram akibat situasi politik yang tidak kondusif. Ia kemudian hijrah ke wilayah Sidoarjo dan menetap di Dusun Sungon, Desa Suko. Menurut keterangan pengurus Takmir Masjid Al-Abror, Muhammad Alfan, yang dimuat NU Online Jatim, Mbah Mulyadi dahulu berdakwah sambil berdagang. Ia kerap bepergian menggunakan perahu menuju kawasan pasar melalui sungai. Di sekitar lokasi pasar tersebut, ia menemukan bekas bangunan kosong berpondasi yang kemudian dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan masjid sederhana.
Dalam proses pembangunan masjid tersebut, Mbah Mulyadi dibantu oleh beberapa tokoh agama lainnya. Mereka adalah Mbah Muso atau Mbah Musa, Mbah Badrijah dari Madura, serta Mbah Sayyid Salim dari Cirebon. Pada masa awalnya, bangunan sederhana itu tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah salat. Masyarakat setempat juga menggunakannya untuk tempat mengaji, berdakwah, berkumpul, hingga pelatihan membatik.
Perjalanan waktu membawa masjid ini pada sejumlah pemugaran. Menurut NU Online Jatim, Masjid Al-Abror pernah mengalami renovasi pada rentang 1857–1859. Renovasi tersebut tercatat dalam sejumlah riwayat sejarah yang mengaitkannya dengan pemerintahan pada masa awal berdirinya Kabupaten Sidokare.
Selanjutnya, pemugaran kembali dilakukan pada 2006 dan 2009. Renovasi besar membuat sebagian besar bentuk aslinya mengalami perubahan. Kendati demikian, pengurus mencatat masih ada tiga peninggalan yang dipertahankan sebagai bagian asli, yaitu sumur tua, gerbang pintu masjid, dan kompleks makam para pendiri di bagian belakang bangunan.
Mengenai arsitekturnya, masjid yang menempati lahan sekitar 700 meter persegi ini memiliki corak budaya Jawa dengan ciri susunan tiga atap. Susunan atap tersebut dimaknai oleh masyarakat sebagai simbol iman, ihsan, dan Islam. Selain itu, di bagian depan masjid terdapat bangunan penanda waktu salat Zuhur pada masa lampau yang digunakan sebelum masyarakat mengenal alat pengukur waktu modern.
Di balik statusnya yang dipercaya masyarakat sebagai masjid tertua sejak 1678—sebagaimana dikaitkan dengan angka yang ditemukan saat renovasi—terdapat catatan dari kalangan akademisi. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui laman resminya pada 4 Juni 2024 memuat pandangan pemerhati sejarah dan budaya Sidoarjo, Muhammad Wildan. Ia mengingatkan bahwa status masjid tertua belum dapat dipastikan sepenuhnya karena keterbatasan bukti sejarah awal penyebaran Islam, sehingga membuka kemungkinan adanya penemuan peninggalan lain yang sezaman atau lebih tua.
Hingga kini, Masjid Al-Abror tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar. Masjid ini dikelola oleh takmir yang melibatkan pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Sidoarjo. Berbagai aktivitas rutin seperti pengajian kitab kuning, kegiatan pembacaan diba’, hingga penyelenggaraan Madrasah Diniyah Awaliyah bagi anak-anak terus berjalan, merawat warisan dakwah para leluhur di jantung Kota Delta.



