Dari Nyaris Mati di Ciliwung hingga Jadi Bos Tol, Kisah Tak Biasa Jusuf Hamka
JAKARTA — Nama Muhammad Jusuf Hamka kembali menjadi sorotan. Di tengah pemberitaan mengenai sengketa bisnis dan laporan polisi yang melibatkan dirinya, sosok yang dikenal dengan panggilan Babah Alun itu sebenarnya memiliki perjalanan hidup yang jauh lebih panjang dan penuh lika-liku. Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha jalan tol dan salah satu figur publik Indonesia, Jusuf Hamka…

JAKARTA — Nama Muhammad Jusuf Hamka kembali menjadi sorotan. Di tengah pemberitaan mengenai sengketa bisnis dan laporan polisi yang melibatkan dirinya, sosok yang dikenal dengan panggilan Babah Alun itu sebenarnya memiliki perjalanan hidup yang jauh lebih panjang dan penuh lika-liku.
Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha jalan tol dan salah satu figur publik Indonesia, Jusuf Hamka pernah menjadi anak yang berjualan es mambo di sekitar Masjid Istiqlal. Ia bahkan pernah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya di Kali Ciliwung.
Kisah-kisah tersebut pernah ia ceritakan dalam sejumlah wawancara.
Hampir Mati di Kali Ciliwung
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika Jusuf masih kecil.
Saat berusia sekitar 10 atau 11 tahun, ia kerap bermain dan berenang di sekitar Kali Ciliwung, kawasan dekat Masjid Istiqlal. Dalam sebuah wawancara, Jusuf menceritakan dirinya pernah didorong seorang teman hingga jatuh ke sungai.
Arus membawanya menuju pintu air.
Dalam kondisi panik, ia berteriak meminta pertolongan. Seorang pria yang disebutnya sebagai tunawisma kemudian datang menyelamatkannya.
Pria tersebut, menurut Jusuf, bernama Zabir dan bekerja sebagai tukang sepatu.
Setelah selamat, Jusuf mengaku memberikan uang serta dagangan es mambo yang dimilikinya kepada Zabir sebagai bentuk terima kasih.
Puluhan tahun kemudian, nama Zabir masih ia ingat.
Kisah tersebut menjadi salah satu cerita yang menunjukkan bagaimana pengalaman masa kecilnya dengan masyarakat kecil kemudian terus membekas dalam kehidupan Jusuf.
Sejak Kecil Sudah Jualan Es Mambo
Kehidupan Jusuf saat kecil juga tidak sepenuhnya menggambarkan kehidupan keluarga miskin.
Ayahnya disebut berprofesi sebagai dosen, sementara ibunya seorang guru. Namun sejak kecil Jusuf sudah terbiasa mencari uang sendiri.
Ia pernah berjualan es mambo, kacang-kacangan dan menjadi pedagang asongan di sekitar Istiqlal.
Lingkungan Pasar Baru dan Istiqlal kemudian menjadi bagian penting dari masa mudanya.
Bahkan, Jusuf pernah menggambarkan dirinya sebagai “jawara” yang terbiasa berkelahi ketika masih muda.
Jauh dari citra pengusaha berjas seperti yang dikenal publik sekarang, masa muda Jusuf justru lekat dengan kehidupan jalanan Jakarta.
Uniknya, Ia Disunat Sebelum Menjadi Muslim
Ada pula cerita yang terdengar tidak biasa.
Jusuf Hamka pernah mengisahkan bahwa dirinya sudah disunat ketika masih remaja, jauh sebelum dirinya memutuskan masuk Islam.
Ia ikut teman-temannya yang Muslim dan menjalani sunat tersebut meski pada saat itu belum menjadi seorang Muslim.
Beberapa tahun kemudian, barulah perjalanan spiritualnya membawanya bertemu dengan Buya Hamka.
Bertemu Buya Hamka dan Mendapat Nama “Hamka”
Pada 1981, Jusuf yang saat itu masih menggunakan nama Alun Joseph mulai tertarik mempelajari Islam.
Ia kemudian bertemu dengan ulama besar Buya Hamka di Masjid Al-Azhar.
Pertemuan tersebut mengubah kehidupannya.
Jusuf akhirnya mengucapkan syahadat dan menjadi Muslim.
Sekitar tiga bulan kemudian, Buya Hamka memberinya nama Muhammad Jusuf Hamka dan menjadikannya anak ideologis.
Nama “Hamka” yang melekat hingga sekarang bukanlah nama keluarga biologis Jusuf.
Nama tersebut diberikan oleh tokoh yang kemudian menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam perjalanan hidupnya.
Hubungan dengan Buya Hamka pula yang membuat identitas Jusuf sebagai Muslim keturunan Tionghoa semakin kuat.
Pernah Memiliki 11.000 Karyawan
Sebelum dikenal karena bisnis jalan tol, Jusuf Hamka pernah terjun ke bisnis kayu di Kalimantan.
Dalam wawancara dengan Kumparan, ia menceritakan pernah memiliki bisnis kayu dengan jumlah pekerja mencapai sekitar 11.000 orang.
Namun bisnis tersebut tidak berlangsung selamanya.
Usahanya mengalami masa sulit dan akhirnya berhenti.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu fase penting sebelum Jusuf kemudian memasuki dunia bisnis infrastruktur.
Dengan kata lain, perjalanan Jusuf bukan cerita sederhana dari “lahir kaya lalu menjadi konglomerat”.
Ada fase ketika bisnisnya tumbuh besar, kemudian mengalami kejatuhan, sebelum akhirnya kembali membangun karier bisnisnya.
Dari Jalan Tol hingga Masjid di Kolong Jalan
Nama Jusuf Hamka kemudian semakin dikenal setelah terlibat dalam bisnis infrastruktur dan jalan tol.
Namun aktivitasnya tidak berhenti di dunia bisnis.
Ia juga dikenal melalui pembangunan masjid yang kemudian populer dengan nama Masjid Babah Alun.
Salah satu yang menarik adalah penggunaan arsitektur bernuansa Tionghoa.
Bagi Jusuf, identitas budaya Tionghoa dan Islam bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Masjid yang dibangun di kawasan kolong tol juga memiliki cerita tersendiri. Kawasan tersebut sebelumnya dikenal sebagai area yang kurang tertata.
Tempat yang sebelumnya identik dengan ruang di bawah jalan tol kemudian diubah menjadi tempat ibadah dan aktivitas masyarakat.
Nasi Kuning Rp3.000, Mengapa Tidak Gratis?
Jusuf juga pernah membuat program makanan murah melalui Warung Podjok Halal.
Harga makanan yang ditawarkan hanya sekitar Rp3.000 per porsi.
Namun ada alasan mengapa makanan tersebut tidak diberikan secara gratis.
Menurut konsep yang pernah dijelaskan Jusuf, harga murah memungkinkan pembeli tetap memiliki rasa ikut berkontribusi. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli makanan dengan harga lebih tinggi dapat dihemat dan, menurut gagasannya, sebagian bisa digunakan untuk membantu orang lain.
Program tersebut juga melibatkan warung dan pelaku usaha kecil sebagai penyedia makanan.
Dengan begitu, bantuan tidak hanya ditujukan kepada penerima makanan, tetapi juga memberikan pemasukan kepada pedagang.
Saat Pandemi, Ia Turut Mengurus Krematorium
Salah satu kisah lain yang jarang dibicarakan adalah aktivitas Jusuf Hamka di bidang pelayanan krematorium.
Saat pandemi COVID-19, ketika banyak keluarga kesulitan mendapatkan layanan kremasi, Jusuf ikut mendorong agar krematorium yang berada di bawah yayasan keluarganya dapat menerima jenazah dengan biaya lebih terjangkau.
Ia pernah mengungkapkan bahwa dirinya menerima keluhan mengenai mahalnya biaya kremasi.
Dalam kondisi tersebut, ia menyebut menetapkan tarif yang lebih rendah dan menyediakan bantuan bagi warga tidak mampu.
Kisah ini menjadi salah satu contoh aktivitas sosial Jusuf yang tidak terbatas pada kelompok agama tertentu.
Dari Anak Pasar Baru ke Pengusaha Infrastruktur
Jika seluruh kisah tersebut disusun menjadi satu perjalanan, kehidupan Jusuf Hamka terlihat seperti rangkaian fase yang sangat berbeda.
Ia pernah menjadi anak yang berjualan es mambo.
Pernah nyaris kehilangan nyawa di Kali Ciliwung.
Pernah diselamatkan seorang tukang sepatu.
Menjadi Muslim setelah bertemu Buya Hamka.
Mendapat nama “Hamka”.
Pernah masuk dunia bisnis kayu dengan ribuan pekerja.
Mengalami masa sulit.
Kemudian masuk ke bisnis infrastruktur dan jalan tol.
Di luar bisnis, ia membangun masjid, menyediakan makanan murah dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
Kini namanya kembali menjadi sorotan publik karena persoalan hukum dan sengketa bisnis yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun di balik pemberitaan tersebut, terdapat perjalanan hidup seorang pria yang sejak kecil sudah bersentuhan dengan kehidupan masyarakat bawah dan kemudian tumbuh menjadi pengusaha besar.
Dari es mambo di Istiqlal, nyaris mati di Ciliwung, bertemu Buya Hamka, hingga menjadi Babah Alun—kisah Jusuf Hamka menunjukkan bahwa perjalanan menuju puncak tidak selalu berjalan lurus.



