Harga Pangan Naik di Jatim? Ini 4 Trik Belanja Dapur agar Uang Bulanan Tak Cepat Habis
SURABAYA — Perubahan harga bahan pangan bisa langsung terasa di dompet. Ketika harga cabai, beras, minyak goreng, daging, atau kebutuhan dapur lainnya mengalami kenaikan, anggaran rumah tangga yang biasanya cukup untuk sebulan bisa ikut tertekan. Kondisi seperti ini membuat keluarga di Jawa Timur perlu lebih cermat ketika mengatur belanja harian. Bukan berarti harus mengurangi kebutuhan…

SURABAYA — Perubahan harga bahan pangan bisa langsung terasa di dompet. Ketika harga cabai, beras, minyak goreng, daging, atau kebutuhan dapur lainnya mengalami kenaikan, anggaran rumah tangga yang biasanya cukup untuk sebulan bisa ikut tertekan.
Kondisi seperti ini membuat keluarga di Jawa Timur perlu lebih cermat ketika mengatur belanja harian. Bukan berarti harus mengurangi kebutuhan makanan, tetapi mengubah cara berbelanja agar pengeluaran tetap terkendali.
Salah satu kuncinya adalah merencanakan belanja sebelum pergi ke pasar.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan agar kenaikan harga pangan tidak langsung membuat anggaran dapur berantakan.
1. Jangan Langsung ke Pasar Sebelum Cek Harga
Kebiasaan mengecek harga bahan pokok sebelum berbelanja bisa membantu keluarga menentukan strategi belanja.
Masyarakat Jawa Timur dapat memanfaatkan informasi dari Siskaperbapo, sistem informasi yang menyediakan data mengenai ketersediaan dan perkembangan harga berbagai bahan pokok.
Dengan mengetahui kondisi harga lebih dahulu, keluarga bisa memperkirakan berapa uang yang perlu disiapkan.
Jika harga salah satu komoditas sedang meningkat, jumlah pembelian atau pilihan menu dapat disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Cara sederhana ini juga membantu keluarga mengenali pola perubahan harga dari waktu ke waktu.
2. Cek Program Pangan Murah
Ketika harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan, program pangan murah yang digelar pemerintah bisa menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat.
Keluarga dapat memantau informasi mengenai Gerakan Pasar Murah atau kegiatan serupa yang tersedia di daerah masing-masing.
Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) juga dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan beras rumah tangga.
Namun, harga yang lebih murah bukan berarti harus membeli sebanyak-banyaknya. Belanja tetap sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan agar bahan makanan tidak menumpuk dan akhirnya terbuang.
3. Tentukan Menu Sebelum Berbelanja
Salah satu penyebab pengeluaran membengkak adalah pergi ke pasar tanpa rencana.
Awalnya hanya ingin membeli beberapa kebutuhan, tetapi berbagai barang lain bisa ikut masuk ke keranjang karena terlihat menarik atau dianggap sedang dibutuhkan.
Untuk menghindarinya, keluarga bisa membuat rencana menu untuk beberapa hari atau satu minggu.
Tidak perlu membuat perencanaan yang rumit. Cukup tentukan lauk, sayuran, dan bahan makanan yang akan digunakan, kemudian cek kembali persediaan di rumah.
Ketika harga daging sedang tinggi, misalnya, keluarga bisa mempertimbangkan sumber protein lain seperti telur, ikan, tahu, atau tempe sesuai kebutuhan dan anggaran.
Perencanaan menu juga membuat bahan makanan yang sudah dibeli lebih mudah dihabiskan.
4. Pisahkan Kebutuhan Pokok dan Pengeluaran yang Bisa Ditunda
Ketika harga pangan naik, pembagian anggaran rumah tangga perlu diperiksa kembali.
Kebutuhan utama seperti bahan makanan bergizi dan kebutuhan pokok sebaiknya ditempatkan sebagai prioritas.
Sementara itu, pengeluaran yang tidak mendesak bisa ditunda atau dikurangi sementara sampai kondisi anggaran kembali lebih longgar.
Membuat batas belanja harian atau mingguan juga dapat membantu. Dengan begitu, keluarga memiliki patokan yang jelas dan tidak mudah menghabiskan uang belanja di awal periode.
Harga Naik, Cara Belanja Juga Perlu Diubah
Pergerakan harga pangan memang berada di luar kendali keluarga. Namun, cara mengatur uang belanja masih bisa disiasati.
Mulai dari mengecek harga sebelum berbelanja, memanfaatkan program pangan murah, menyusun menu, hingga menentukan prioritas kebutuhan.
Kebiasaan kecil tersebut dapat membantu keluarga menjaga pengeluaran tetap terukur ketika harga bahan pokok berubah.
Pada akhirnya, berhemat bukan berarti mengurangi kebutuhan makan keluarga. Yang lebih penting adalah membuat setiap rupiah dari anggaran dapur digunakan secara terencana.
Dengan perencanaan yang lebih matang, kebutuhan pangan keluarga tetap dapat terpenuhi tanpa membuat pengeluaran bulanan ikut melonjak.
Sumber: Pikiran Rakyat Jatim, artikel “Harga Pangan Naik? Ini 4 Cara Keluarga di Jatim Atur Belanja Dapur Agar Anggaran Tak Jebol”, 18 Agustus 2026.



