Gandrung Sewu Banyuwangi Digelar Malam Hari, Ribuan Penari Hadirkan Pesona Budaya di Tepi Selat Bali
BANYUWANGI, TOTALMEDIA.ID – Bayangkan ribuan penari bergerak serempak di tepi pantai, diiringi musik tradisional yang menggema di bawah langit malam. Kostum khas Gandrung berpadu dengan permainan cahaya, sementara Selat Bali menjadi latar yang menambah kesan megah. Pemandangan seperti inilah yang bakal mewarnai Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur. Festival tari kolosal kebanggaan masyarakat Banyuwangi…

BANYUWANGI, TOTALMEDIA.ID – Bayangkan ribuan penari bergerak serempak di tepi pantai, diiringi musik tradisional yang menggema di bawah langit malam. Kostum khas Gandrung berpadu dengan permainan cahaya, sementara Selat Bali menjadi latar yang menambah kesan megah. Pemandangan seperti inilah yang bakal mewarnai Gandrung Sewu 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur.
Festival tari kolosal kebanggaan masyarakat Banyuwangi ini kembali menarik perhatian. Bukan hanya warga lokal yang ingin terlibat, tetapi juga ratusan penari dari berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan informasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, sebanyak 1.300 penari dijadwalkan tampil, termasuk 200 peserta dari luar daerah.
Gandrung Sewu tahun ini dijadwalkan berlangsung pada 22–24 Oktober 2026, dengan pertunjukan utama pada Sabtu, 24 Oktober 2026, malam hari di Pantai Marina Boom Banyuwangi.
Antusiasme peserta dari luar daerah menjadi salah satu cerita menarik menjelang festival. Seni tradisional yang tumbuh dari tanah Banyuwangi kini semakin dikenal dan mampu mengundang generasi muda untuk datang, belajar, sekaligus menjadi bagian dari pertunjukannya.
Berawal dari Ketertarikan, Berujung pada Panggung Kolosal
Salah satu peserta yang ikut meramaikan Gandrung Sewu 2026 adalah Asiva Kirana Nadinar, siswi SMK Putikecwara dari Kota Batu. Ketertarikannya bermula ketika melihat video pertunjukan Gandrung Sewu beredar di media sosial.
Dari sekadar menyaksikan tayangan, muncul keinginan untuk merasakan pengalaman menari langsung bersama ribuan peserta lainnya. Asiva kemudian mendaftarkan diri dan berhasil lolos seleksi.
Dalam keterangan yang dimuat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 12 Oktober 2026, Asiva mengungkapkan kegembiraannya karena akhirnya mendapat kesempatan untuk mengikuti festival tersebut.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mengenal kesenian daerah. Mereka tidak harus lahir atau tinggal di Banyuwangi untuk tertarik mempelajari tari Gandrung.
Peserta dari luar daerah dijadwalkan datang dari sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Palembang, Bali, Malang, Batu, Blitar, Kediri, dan Pasuruan.
Kehadiran mereka juga memperlihatkan bahwa festival budaya bisa menjadi ruang pertemuan lintas daerah. Para peserta membawa pengalaman dan latar belakang masing-masing, tetapi berkumpul dengan tujuan yang sama: menyukseskan pertunjukan sekaligus mengenal lebih dekat kesenian khas Banyuwangi.
Gandrung Sewu Hadir dengan Nuansa Malam
Ada hal berbeda yang membuat Gandrung Sewu 2026 semakin menarik untuk dinantikan. Setelah selama bertahun-tahun dikenal melalui pertunjukan kolosal pada siang hari, tahun ini festival tersebut untuk pertama kalinya digelar pada malam hari.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjelaskan bahwa konsep baru ini memadukan seni tari tradisional dengan tata cahaya dan teknologi pertunjukan. Para penari juga akan menggunakan elemen fosfor yang dipadukan dengan pencahayaan untuk menciptakan efek visual berbeda.
Perubahan tersebut bukan sekadar memindahkan waktu pertunjukan. Suasana malam di kawasan Pantai Marina Boom diharapkan memberikan pengalaman baru bagi penonton, sekaligus memperkuat daya tarik festival bagi wisatawan.
Meski penyajiannya berkembang, unsur utama Gandrung tetap dipertahankan. Gerak tari, irama musik, ekspresi penari, serta nilai budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya menjadi bagian penting dari pertunjukan.
Dalam keterangan resmi Pemkab Banyuwangi pada 1 Oktober 2026, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menekankan pentingnya mengembangkan tradisi tanpa kehilangan jati diri. Gagasan tersebut relevan dengan upaya mengenalkan kesenian lokal kepada masyarakat yang semakin akrab dengan hiburan digital dan pertunjukan modern.
Mengenal Gandrung, Identitas Budaya Banyuwangi
Bagi masyarakat Banyuwangi, Gandrung bukan sekadar tarian untuk menyambut wisatawan. Kesenian ini telah menjadi bagian dari identitas budaya daerah dan memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat.
Situs pariwisata resmi Indonesia, Indonesia.travel, mencatat bahwa Gandrung Sewu merupakan festival tahunan yang digelar sejak 2012. Ribuan penari tampil dalam pertunjukan kolosal di kawasan Pantai Boom dengan latar Selat Bali.
Festival ini juga menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk memperkuat kecintaan terhadap tradisi Banyuwangi. Salah satu bagian pertunjukan yang dikenal adalah tari massal Jejer Gandrung, yang menghadirkan gerakan para penari dalam formasi besar.
Melalui format kolosal, kesenian yang mungkin awalnya hanya dikenal oleh masyarakat setempat dapat dinikmati oleh penonton dari berbagai daerah. Penampilan serentak ribuan penari membuat Gandrung Sewu memiliki daya tarik visual, tetapi nilai pentingnya tidak berhenti pada kemegahan panggung.
Di balik gerakan yang terlihat kompak, ada proses belajar, latihan, dan usaha untuk memahami kesenian yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, keterlibatan peserta muda menjadi bagian penting dari keberlanjutan tradisi tersebut.
Festival Budaya yang Menggerakkan Pariwisata
Gandrung Sewu juga memiliki potensi untuk memberikan dampak bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Kehadiran peserta serta wisatawan dari luar daerah dapat membuka peluang bagi berbagai usaha, mulai dari penginapan, kuliner, transportasi, hingga produk kerajinan dan oleh-oleh.
Dalam pemberitaan resmi Pemkab Banyuwangi mengenai konsep Gandrung Sewu 2026, dukungan InJourney disebut sebagai bagian dari kolaborasi untuk memperkuat ekosistem seni budaya dan pariwisata. Harapannya, pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga menikmati pengalaman wisata yang lebih luas di Banyuwangi.
Bagi pelaku usaha lokal, agenda budaya berskala besar dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk dan layanan kepada pengunjung baru. Sementara itu, wisatawan memperoleh alasan tambahan untuk mengenal destinasi, kuliner, dan kehidupan masyarakat setempat.
Namun, keberhasilan festival tidak semata-mata diukur dari banyaknya penonton. Keterlibatan masyarakat, keberlanjutan kesenian, serta manfaat yang dirasakan pelaku lokal juga menjadi bagian penting dari penyelenggaraan acara budaya.
Gandrung Sewu 2026 menjadi salah satu agenda yang menutup rangkaian Kharisma Event Nusantara (KEN) Jawa Timur 2026. Perannya memperlihatkan bagaimana kekayaan budaya daerah dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Catat Jadwal Gandrung Sewu 2026
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung, rangkaian Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan berlangsung pada 22–24 Oktober. Agenda utama akan digelar pada 24 Oktober 2026 malam di Pantai Marina Boom Banyuwangi.
Informasi mengenai festival ini dapat dipantau melalui kanal resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan situs pariwisata Indonesia. Pengunjung sebaiknya memeriksa kembali informasi teknis, akses lokasi, serta ketentuan kunjungan menjelang hari pelaksanaan.
Pada akhirnya, daya tarik Gandrung Sewu bukan hanya tentang ribuan penari yang memenuhi panggung. Ada cerita tentang anak muda yang tertarik mempelajari tradisi, masyarakat yang menjaga warisan budaya, dan sebuah daerah yang terus mencari cara agar keseniannya dikenal lebih luas.
Ketika ratusan peserta dari luar Banyuwangi bersedia datang untuk ikut menari, Gandrung Sewu menunjukkan bahwa tradisi lokal bisa melampaui batas geografis. Dari pesisir Banyuwangi, gerak Gandrung terus menemukan penonton dan generasi baru yang ingin menjadi bagian dari ceritanya.



