Ketika Candaan Dosen Membuat Mahasiswa Tak Nyaman, Apa yang Terjadi di Balik Cerita Ini?
SURABAYA, TOTALMEDIA.ID — Bayangkan sebuah ruang kelas. Dosen sedang menjelaskan materi. Mahasiswa duduk mendengarkan, sebagian mencatat, sebagian mungkin sesekali berbincang dengan teman di sebelahnya. Suasananya seharusnya biasa saja. Sampai sebuah candaan terlontar. Bagi orang yang mengucapkannya, mungkin itu hanya dianggap sebagai humor untuk mencairkan suasana. Tetapi bagi orang yang mendengarnya, kalimat yang sama bisa terasa…

SURABAYA, TOTALMEDIA.ID — Bayangkan sebuah ruang kelas.
Dosen sedang menjelaskan materi. Mahasiswa duduk mendengarkan, sebagian mencatat, sebagian mungkin sesekali berbincang dengan teman di sebelahnya.
Suasananya seharusnya biasa saja.
Sampai sebuah candaan terlontar.
Bagi orang yang mengucapkannya, mungkin itu hanya dianggap sebagai humor untuk mencairkan suasana. Tetapi bagi orang yang mendengarnya, kalimat yang sama bisa terasa berbeda.
Bisa membuat malu.
Bisa membuat tidak nyaman.
Bahkan bisa membuat seseorang bertanya dalam hati, “Apakah saya boleh mengatakan bahwa saya tidak suka dengan candaan seperti ini?”
Pertanyaan semacam itulah yang kemudian muncul setelah kasus dugaan ucapan bernuansa seksual oleh seorang dosen UPN Veteran Jawa Timur berinisial HP, pengajar mata kuliah umum Bela Negara, menjadi perhatian publik.
Kasus tersebut mencuat setelah keluhan mahasiswa beredar di media sosial. Pihak kampus kemudian mengganti dosen untuk mata kuliah terkait dan melakukan pemeriksaan melalui mekanisme internal. Hingga awal Oktober 2026, proses pemeriksaan masih berlangsung.
Perlu ditegaskan, kasus ini masih berupa dugaan dan belum dapat dianggap sebagai pelanggaran yang telah terbukti.
Semuanya Bermula dari Sebuah Candaan
Menurut keterangan mahasiswa yang diberitakan detikJatim, pembahasan dalam kelas saat itu berkaitan dengan materi “4 Sehat 5 Sempurna”.
Pembicaraan kemudian mengarah kepada susu.
Dari sinilah muncul sejumlah ucapan yang oleh mahasiswa dinilai bernuansa seksual.
Seorang mahasiswi disebut merasa tidak nyaman dan menyampaikan keberatan.
Di titik ini, cerita tersebut sebenarnya bisa berhenti sebagai persoalan kecil di dalam sebuah kelas.
Tetapi ternyata tidak.
Keluhan kemudian muncul di media sosial dan menarik perhatian lebih luas.
Pihak kampus mengambil langkah dengan mengganti dosen yang mengajar mata kuliah tersebut serta melakukan pemeriksaan terhadap dosen yang bersangkutan.
Dan sejak saat itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar:
“Apakah itu sebuah candaan?”
Tetapi:
“Apa yang dirasakan mahasiswa yang mendengarnya?”
Sebuah Candaan Bisa Terasa Berbeda bagi Orang yang Mendengarnya
Kita mungkin pernah berada dalam situasi seperti ini.
Seseorang melontarkan candaan.
Orang-orang di sekitar tertawa.
Tetapi kita justru merasa tidak nyaman.
Lalu kita bingung.
Haruskah ikut tertawa?
Haruskah diam?
Atau mengatakan bahwa candaan tersebut sudah melewati batas?
Dalam lingkungan kampus, persoalannya menjadi lebih rumit karena hubungan dosen dan mahasiswa tidak sepenuhnya setara.
Dosen memiliki kewenangan akademik, termasuk dalam proses pembelajaran dan penilaian. Kondisi ini dapat membuat mahasiswa berpikir berkali-kali sebelum menyampaikan keberatan.
Mungkin ada yang takut dianggap terlalu sensitif.
Mungkin ada yang khawatir masalahnya menjadi lebih besar.
Mungkin ada pula yang hanya memilih diam.
Dan diam tidak selalu berarti nyaman.
Kalau Dilihat dari Kacamata Psikologi
Di sinilah cerita tersebut menjadi menarik jika dilihat dari perspektif psikologi.
Ketika seseorang mengalami komunikasi yang membuatnya merasa dipermalukan, menjadi objek seksual, atau merasa tidak aman, responsnya bisa berbeda-beda.
Ada yang langsung protes.
Ada yang diam.
Ada yang tertawa karena bingung.
Ada yang memilih menghindari situasi tersebut.
Tidak ada satu respons yang berlaku untuk semua orang.
Pengalaman seperti ini juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami trauma atau gangguan psikologis.
Dampaknya harus dilihat secara individual.
Namun, rasa malu, cemas, tidak nyaman berada di kelas, takut menjadi sasaran candaan kembali, menurunnya rasa percaya diri, hingga kesulitan berkonsentrasi merupakan beberapa respons yang dapat muncul ketika seseorang mengalami pengalaman komunikasi yang tidak menyenangkan.
Karena itu, persoalannya tidak sesederhana:
“Kan cuma bercanda.”
Ada Satu Pertanyaan yang Sering Terlupakan
Ketika seseorang mengatakan sebuah candaan tidak lucu, mungkin kita spontan berpikir:
“Ah, dia terlalu serius.”
Tetapi psikologi mengajak kita melihat dari sisi lain.
Bukan hanya bertanya:
“Apakah saya bermaksud menyakiti?”
Melainkan juga:
“Bagaimana ucapan saya diterima oleh orang lain?”
Dua pertanyaan tersebut menghasilkan cara pandang yang berbeda.
Seseorang mungkin tidak bermaksud membuat orang lain malu.
Namun, jika orang lain ternyata merasa tidak nyaman, respons yang sehat bukan langsung menyalahkan perasaannya.
Respons yang lebih dewasa adalah mendengarkan.
Kemudian mengevaluasi.
Lalu memperbaiki.
Mengapa Ada Orang yang Memilih Diam?
Coba bayangkan seorang mahasiswa yang merasa tidak nyaman dengan ucapan seorang dosen.
Ia ingin protes.
Tetapi kemudian muncul banyak pikiran:
“Nanti saya dianggap berlebihan tidak?”
“Bagaimana kalau hubungan saya dengan dosen menjadi buruk?”
“Bagaimana kalau teman-teman malah membicarakan saya?”
“Saya harus melapor ke siapa?”
Pikiran seperti itu dapat membuat seseorang memilih diam.
Dalam relasi yang memiliki perbedaan kekuasaan, respons seseorang memang tidak selalu berupa perlawanan langsung.
Karena itu, keberadaan kanal pengaduan yang jelas saja belum cukup.
Mahasiswa juga perlu merasa bahwa ketika mereka berbicara, mereka akan didengar.
Bukan Berarti Dosen Tidak Boleh Bercanda
Tentu saja boleh.
Humor justru bisa membuat ruang kelas menjadi lebih cair.
Dosen yang mampu membuat mahasiswa tersenyum dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Masalahnya bukan pada keberadaan humor.
Masalahnya adalah batas humor tersebut.
Ketika candaan mulai menggunakan tubuh seseorang, jenis kelamin, seksualitas, kondisi pribadi, pengalaman sensitif, atau posisi seseorang yang lebih lemah sebagai bahan lelucon, risikonya menjadi berbeda.
Maka ada satu pertanyaan sederhana yang sebenarnya sangat penting bagi siapa pun yang mengajar:
“Apakah mahasiswa saya bebas mengatakan bahwa mereka tidak nyaman?”
Jika jawabannya tidak, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Setelah Seseorang Mengatakan “Saya Tidak Nyaman”
Bagian ini juga penting.
Ada perbedaan antara seseorang yang melakukan kesalahan dalam berkomunikasi kemudian menyadarinya dengan seseorang yang tetap mempertahankan perilaku tersebut setelah mendapatkan keberatan.
Dalam hubungan yang sehat, keberatan seharusnya menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak.
Mendengarkan.
Memahami.
Mengevaluasi.
Memperbaiki.
Bukan malah:
menertawakan, menyalahkan, mempermalukan, atau mengabaikan.
Tetapi sekali lagi, bagaimana sebenarnya kejadian dalam kasus UPN Veteran Jawa Timur tersebut tetap harus ditentukan melalui pemeriksaan resmi.
Di Sini Kampus Punya Peran Besar
Ketika sebuah persoalan sudah muncul, kampus menghadapi dua tanggung jawab sekaligus.
Di satu sisi, mahasiswa yang merasa dirugikan harus mendapatkan ruang yang aman untuk menyampaikan pengalaman.
Di sisi lain, dosen yang dilaporkan juga berhak mendapatkan proses pemeriksaan yang objektif dan kesempatan memberikan klarifikasi.
Keduanya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Justru proses yang sehat adalah proses yang melindungi pihak yang membutuhkan perlindungan sekaligus tetap menjunjung pemeriksaan yang adil.
Dalam kasus ini, pihak UPN Veteran Jawa Timur menyatakan Satgas PPKS melakukan pemeriksaan dan kampus menangani persoalan melalui mekanisme yang tersedia.
Jadi, Apa Pelajaran dari Cerita Ini?
Mungkin inilah bagian terpenting dari seluruh persoalan.
Sebuah kampus bukan hanya tempat mahasiswa mengejar nilai.
Bukan hanya tempat mendapatkan ijazah.
Kampus juga merupakan tempat seseorang belajar berinteraksi dengan orang lain.
Belajar menghormati batas.
Belajar menerima perbedaan.
Belajar menyampaikan keberatan.
Dan belajar bertanggung jawab ketika perkataan kita ternyata membuat orang lain tidak nyaman.
Karena itu, lingkungan pendidikan yang sehat bukan berarti lingkungan yang tidak pernah memiliki masalah.
Justru yang lebih penting adalah:
bagaimana sebuah institusi merespons ketika masalah muncul.
Apakah mahasiswa didengar?
Apakah laporan diperiksa?
Apakah bukti dipelajari?
Apakah pihak yang dilaporkan diberikan kesempatan memberikan klarifikasi?
Dan setelah semuanya selesai, apakah ada perubahan?
Untuk Dosen: Humor Boleh, Tetapi Batas Harus Ada
Ada beberapa hal sederhana yang bisa menjadi pengingat.
Pertama, hindari menjadikan tubuh atau seksualitas mahasiswa sebagai bahan candaan.
Kedua, perhatikan respons mahasiswa.
Ketiga, berikan ruang ketika mahasiswa menyampaikan keberatan.
Keempat, jangan menggunakan posisi akademik untuk membuat mahasiswa takut berbicara.
Kelima, jangan takut mengevaluasi diri ketika sebuah komunikasi ternyata menimbulkan ketidaknyamanan.
Untuk Mahasiswa: Jangan Merasa Harus Menghadapi Semuanya Sendiri
Jika mengalami atau menyaksikan sesuatu yang membuat tidak nyaman, mahasiswa dapat mencari bantuan melalui jalur yang tersedia.
Bicarakan dengan orang yang dipercaya.
Gunakan mekanisme resmi kampus.
Simpan informasi yang relevan jika memang dibutuhkan dalam proses pelaporan.
Dan jika pengalaman tersebut mulai mengganggu kondisi emosional atau aktivitas sehari-hari, mendapatkan bantuan dari tenaga profesional juga dapat menjadi pilihan.
Yang tidak kalah penting:
hindari menyebarkan identitas atau informasi pribadi pihak-pihak yang terlibat tanpa dasar yang jelas.
Pada Akhirnya, Ini Bukan Sekadar Cerita tentang Sebuah Candaan
Kasus dugaan ucapan seksis di UPN Veteran Jawa Timur masih berada dalam proses pemeriksaan.
Karena itu, kita tidak perlu terburu-buru menjatuhkan vonis.
Tetapi kita juga tidak perlu mengabaikan pertanyaan penting yang muncul dari cerita tersebut.
Seberapa aman mahasiswa untuk mengatakan “saya tidak nyaman”?
Pertanyaan sederhana itu sebenarnya menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebab ruang pendidikan yang baik bukan ruang yang membuat semua orang harus selalu tertawa.
Ruang pendidikan yang baik adalah ruang di mana seseorang bisa mengatakan:
“Saya tidak nyaman.”
Dan ketika kalimat itu disampaikan, orang lain bersedia berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Mungkin di situlah cerita ini memberikan pelajaran untuk kita semua.
Bahwa menjaga ruang aman tidak selalu dimulai dari aturan yang besar.
Kadang-kadang, semuanya dimulai dari hal sederhana:
Memikirkan kembali kata-kata sebelum mengucapkannya.
Sumber: pemberitaan detikJatim dan informasi yang disampaikan pihak UPN Veteran Jawa Timur. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan kesalahan pihak tertentu sebelum proses pemeriksaan resmi selesai.



