Surabaya Panas Pol, Suhu Bisa 37°C: Bukan Cuma Soal Gerah, Ini yang Terjadi pada Tubuh
SURABAYA, TOTALMEDIA.ID — Baru keluar rumah beberapa menit, keringat sudah mulai terasa di dahi. Aspal seperti memantulkan panas. Udara terasa berat. Bahkan duduk diam pun tubuh rasanya tetap ingin mencari tempat yang lebih teduh. Bagi warga Surabaya, kondisi seperti ini mungkin sudah tidak asing. Memasuki Oktober, cuaca panas kembali terasa begitu kuat. Suhu maksimum harian…

SURABAYA, TOTALMEDIA.ID — Baru keluar rumah beberapa menit, keringat sudah mulai terasa di dahi.
Aspal seperti memantulkan panas. Udara terasa berat. Bahkan duduk diam pun tubuh rasanya tetap ingin mencari tempat yang lebih teduh.
Bagi warga Surabaya, kondisi seperti ini mungkin sudah tidak asing.
Memasuki Oktober, cuaca panas kembali terasa begitu kuat. Suhu maksimum harian di Surabaya tercatat dapat mencapai sekitar 36°C dan berpotensi meningkat hingga 37°C.
Warga sering menyebut kondisi seperti ini dengan istilah sederhana: “panas pol.”
Namun, di balik rasa gerah yang membuat ingin terus minum dan mencari kipas angin, sebenarnya ada cerita yang lebih menarik.
Mengapa Surabaya bisa sepanas ini?
Dan yang tidak kalah penting, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika harus menghadapi panas sepanjang hari?
Bukan Sekadar Matahari Terik
Kalau melihat ke langit pada Oktober, jawabannya seolah sederhana.
Matahari terang.
Awan sedikit.
Udara panas.
Tetapi ternyata ada beberapa faktor yang bekerja bersamaan.
Menurut penjelasan BMKG yang menjadi rujukan dalam informasi ini, kondisi panas di Surabaya berkaitan dengan posisi matahari, pola angin musiman, kelembapan udara, hingga karakter perkotaan Surabaya sendiri.
Jadi, bukan hanya satu penyebab.
Ada beberapa “pemain” yang membuat panas terasa semakin kuat.
Pertama, Matahari Sedang Berada di Posisi yang Sangat Terik
Coba perhatikan bayangan tubuh ketika matahari berada hampir tepat di atas kepala.
Bayangannya menjadi pendek.
Kondisi tersebut berkaitan dengan gerak semu matahari dan fenomena kulminasi utama.
Pada periode tertentu sekitar Oktober, posisi matahari berada sangat dekat dengan wilayah lintang Pulau Jawa.
Akibatnya, permukaan bumi menerima radiasi matahari dengan intensitas tinggi.
Sederhananya begini.
Matahari berada lebih tegak → sinar matahari diterima lebih langsung → permukaan lebih cepat panas.
Itulah salah satu alasan mengapa panas terasa menyengat bahkan sejak pagi menjelang siang.
Kedua, Langit yang Cerah Membuat Panas Lebih “Leluasa”
Ada hal lain yang sering tidak kita sadari.
Awan.
Awan tebal dapat mengurangi sebagian radiasi matahari yang langsung mencapai permukaan bumi.
Namun ketika pembentukan awan relatif minim, sinar matahari memiliki lebih banyak kesempatan untuk memanaskan permukaan.
Pada periode ketika wilayah Indonesia dipengaruhi Monsun Australia, massa udara yang datang cenderung lebih kering.
Akibatnya, pembentukan awan di sejumlah wilayah dapat lebih terbatas.
Hasil akhirnya?
Matahari seperti mendapatkan jalan yang lebih lebar untuk menyinari kota.
Dan Surabaya pun terasa semakin panas.
Lalu Mengapa 36°C Bisa Terasa Jauh Lebih Panas?
Ini bagian yang sering membuat orang bertanya.
“Termometer menunjukkan 36°C. Tapi kok rasanya seperti lebih dari itu?”
Jawabannya berkaitan dengan kelembapan udara.
Tubuh manusia memiliki sistem pendingin alami.
Ketika panas, tubuh mengeluarkan keringat.
Keringat kemudian menguap dari permukaan kulit dan membantu mendinginkan tubuh.
Tetapi ketika udara sangat lembap, proses penguapan keringat menjadi kurang efektif.
Akibatnya, tubuh lebih sulit membuang panas.
Inilah yang membuat udara terasa:
gerah, lengket, sumuk, dan melelahkan.
Jadi, angka pada termometer dan sensasi panas yang dirasakan tubuh memang tidak selalu terasa sama.
Surabaya Juga Punya “Mesin Pemanas” Sendiri
Ada satu faktor lagi yang tidak kalah menarik.
Kota.
Surabaya adalah kota metropolitan dengan bangunan, jalan beraspal, beton, kendaraan, aktivitas manusia, dan berbagai infrastruktur perkotaan yang padat.
Material seperti aspal dan beton dapat menyerap panas ketika terkena sinar matahari.
Kemudian panas tersebut dilepaskan kembali ke lingkungan.
Fenomena yang dikenal sebagai Urban Heat Island ini membuat kawasan perkotaan dapat terasa lebih panas dibandingkan wilayah yang lebih banyak memiliki vegetasi atau permukaan alami.
Itulah sebabnya panas di kota tidak selalu berhenti ketika matahari mulai bergeser.
Permukaan kota masih menyimpan panas.
Yang Sering Dilupakan: Tubuh Kita Juga “Bekerja Keras”
Di sinilah cerita panas Surabaya menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bayangkan seseorang yang harus bekerja di luar ruangan.
Sejak pagi sudah terpapar panas.
Kemudian berjalan.
Naik kendaraan.
Menunggu.
Bekerja.
Berkeringat.
Minum mungkin tidak cukup.
Tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu agar tetap berada dalam kondisi aman.
Karena itu, cuaca panas bukan sekadar persoalan “tidak nyaman”.
Paparan panas yang berlebihan dapat membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan dan mengalami kelelahan.
Tanda-tanda sederhana seperti haus berlebihan, lemas, pusing, sakit kepala, atau tubuh terasa sangat lelah tidak sebaiknya diabaikan.
Terutama pada anak-anak, lansia, orang yang bekerja di luar ruangan, serta mereka yang memiliki kondisi tertentu.
Anak-anak Bisa Lebih Mudah Terdampak
Bagi keluarga yang memiliki anak, cuaca panas membutuhkan perhatian ekstra.
Anak mungkin terlalu asyik bermain sampai lupa minum.
Mereka juga belum tentu mampu mengenali tanda tubuh ketika sudah mulai kelelahan akibat panas.
Karena itu, orang tua tidak harus menunggu anak mengatakan:
“Aku haus.”
Pastikan anak mendapatkan cairan secara cukup sepanjang hari.
Jika bermain di luar, pilih waktu yang lebih aman dan sediakan tempat berteduh.
Dan ketika anak terlihat sangat lemas, pusing, mengantuk tidak seperti biasanya, atau menunjukkan tanda gangguan akibat panas, segera hentikan aktivitas dan lakukan penanganan yang sesuai.
Bagaimana dengan Orang yang Harus Bekerja di Luar?
Cerita panas Surabaya juga merupakan cerita para pekerja lapangan.
Pedagang kaki lima.
Kurir.
Petugas kebersihan.
Pekerja konstruksi.
Pengemudi.
Petugas keamanan.
Dan banyak orang lain yang tetap harus beraktivitas ketika matahari sedang terik.
Bagi mereka, saran “tinggal di dalam rumah” tentu tidak selalu mungkin.
Yang bisa dilakukan adalah mengatur aktivitas agar paparan panas tidak terlalu berat.
Minum air secara berkala.
Gunakan pakaian yang nyaman dan tidak terlalu tebal.
Cari tempat teduh ketika memungkinkan.
Gunakan pelindung dari sinar matahari.
Dan berikan tubuh kesempatan untuk beristirahat.
Kapan Panas Mulai Mereda?
Berdasarkan informasi yang menjadi rujukan artikel ini, peningkatan tutupan awan diperkirakan terjadi seiring masuknya fase transisi menuju kondisi yang lebih basah.
Namun, hujan yang lebih merata di Surabaya diperkirakan baru mulai terjadi pada pertengahan hingga akhir November.
Artinya, masyarakat masih perlu bersiap menghadapi periode panas dan perubahan cuaca selama masa peralihan.
Cuaca tidak selalu berubah secara mendadak.
Kadang langit masih cerah pada siang hari, kemudian kondisi atmosfer berubah dan hujan mulai muncul pada waktu yang berbeda.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga?
Tidak perlu menunggu sampai tubuh benar-benar kelelahan.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu menghadapi cuaca panas:
💧 1. Jangan menunggu haus untuk minum
Pastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi sepanjang hari.
👕 2. Pilih pakaian yang ringan dan nyaman
Pakaian longgar dan berbahan adem dapat membantu tubuh merasa lebih nyaman.
☀️ 3. Kurangi paparan matahari langsung
Jika memungkinkan, batasi aktivitas di bawah terik matahari, terutama pada periode panas siang hingga sore.
🧴 4. Lindungi kulit
Gunakan pelindung dari sinar matahari, termasuk sunscreen, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
🌳 5. Cari tempat teduh
Jangan memaksakan diri terus berada di bawah matahari ketika tubuh mulai terasa tidak nyaman.
👨👩👧 6. Perhatikan anak dan lansia
Mereka membutuhkan perhatian lebih ketika suhu lingkungan meningkat.
🚨 7. Kenali tanda tubuh
Jika muncul keluhan seperti pusing, lemas berlebihan, sakit kepala, mual, kebingungan, atau kondisi tubuh memburuk setelah terpapar panas, jangan dianggap sebagai “sekadar kepanasan”.
Segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis bila diperlukan.
Pada Akhirnya, Panas Surabaya Bukan Hanya Cerita tentang Angka
Angka 36°C atau 37°C memang menarik untuk diberitakan.
Tetapi bagi orang yang sedang berada di jalan, bekerja di bawah matahari, mengantar barang, berjualan, atau mengantar anak sekolah, angka itu bukan sekadar angka.
Itu adalah kondisi yang dirasakan tubuh.
Ada keringat yang terus keluar.
Ada rasa haus.
Ada tenaga yang lebih cepat terkuras.
Ada anak yang ingin terus bermain meski tubuhnya mulai lelah.
Dan ada orang tua yang harus mengingatkan:
“Minum dulu.”
Mungkin kalimat sederhana itu justru menjadi salah satu cara paling penting menghadapi panas.
Karena menghadapi cuaca ekstrem tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit.
Kadang dimulai dari hal kecil:
cukup minum, mengenali batas tubuh, mencari tempat teduh, dan saling mengingatkan.
Surabaya mungkin sedang “panas pol”.
Tetapi jangan sampai kita ikut memaksakan tubuh sampai “overheat.”
Sumber: BMKG dan sumber informasi cuaca yang dirujuk dalam materi artikel.



