TotalMedia.ID — Cerita, Inspirasi & Informasi
News

Niatnya Saweran, Kok Malah Jadi Rapat Mediasi? Kisah Kades, Biduan dan Uang yang Terbang ke Wajah

PANDEGLANG, TOTALMEDIA.ID — Kalau sebuah acara dangdut biasanya punya tiga unsur wajib: musik yang kencang, orang yang bergoyang, dan saweran yang beterbangan. Tapi di sebuah acara hiburan di Pandeglang, Banten, ada satu hal yang mungkin tidak masuk daftar susunan acara. Rapat mediasi. Ceritanya bermula ketika seorang biduan sedang tampil menghibur warga. Suasana awalnya berjalan seperti…

admin4 menit baca
Niatnya Saweran, Kok Malah Jadi Rapat Mediasi? Kisah Kades, Biduan dan Uang yang Terbang ke Wajah
Niatnya Saweran, Kok Malah Jadi Rapat Mediasi? Kisah Kades, Biduan dan Uang yang Terbang ke Wajah

PANDEGLANG, TOTALMEDIA.ID — Kalau sebuah acara dangdut biasanya punya tiga unsur wajib: musik yang kencang, orang yang bergoyang, dan saweran yang beterbangan.

Tapi di sebuah acara hiburan di Pandeglang, Banten, ada satu hal yang mungkin tidak masuk daftar susunan acara.

Rapat mediasi.

Ceritanya bermula ketika seorang biduan sedang tampil menghibur warga. Suasana awalnya berjalan seperti acara hiburan pada umumnya. Musik berbunyi, penonton menikmati pertunjukan, dan beberapa orang ikut berjoget.

Lalu datanglah momen yang membuat video acara tersebut akhirnya berkelana jauh lebih cepat daripada suara organ tunggal.

Seorang pria menyawer dengan cara melempar uang ke arah wajah biduan.

Sang biduan rupanya tidak menganggap cara tersebut sebagai bagian dari hiburan.

Ia kemudian meminta agar uang tidak dilemparkan ke wajahnya. Momen itulah yang kemudian membuat suasana berubah.

Masalahnya bukan lagi soal lagu apa yang sedang dimainkan.

Tetapi soal bagaimana cara menyawer.

Video kejadian tersebut kemudian viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, kepala desa yang berada di lokasi terlihat mengambil mikrofon dan memarahi biduan yang memprotes aksi saweran tersebut.

Dan sejak saat itu, acara yang awalnya ingin membuat orang bergoyang berubah menjadi bahan perbincangan warganet.


Dari “Saweran” Berubah Menjadi “Salah Paham”

Kalau dipikir-pikir, uang memang benda yang menarik.

Dilempar ke depan orang, orang bisa senang.

Dilempar ke udara, orang bisa berebut.

Tapi kalau dilempar tepat ke wajah?

Nah, ceritanya bisa berbeda.

Dalam video yang beredar, biduan tersebut menyampaikan keberatan terhadap cara saweran itu dilakukan. Respons kepala desa kemudian ikut memanaskan suasana.

Peristiwa tersebut disebut terjadi di wilayah Desa Padasuka, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Polda Banten menyebut kepala desa yang ada dalam video adalah Kepala Desa Padasuka, Sara.

Persoalan yang tadinya hanya terjadi di depan panggung kemudian pindah ke panggung yang jauh lebih besar:

media sosial.

Dan seperti yang sering terjadi di zaman sekarang, satu video pendek bisa membuat sebuah acara lokal tiba-tiba diketahui orang dari berbagai daerah.


Ketika Mikrofon Berubah Fungsi

Mikrofon sebenarnya punya pekerjaan sederhana.

Untuk bernyanyi.

Untuk berbicara.

Untuk menyapa penonton.

Tetapi malam itu, mikrofon juga menjadi alat untuk menyampaikan kemarahan.

Dalam video yang viral, kepala desa terdengar meminta acara dihentikan dan mempertanyakan alasan biduan memprotes saweran tersebut.

Di sinilah masalah menjadi lebih besar.

Karena ketika seseorang memegang mikrofon, suara yang keluar tidak hanya didengar oleh orang yang berada beberapa meter di depannya.

Kalau ada kamera yang sedang merekam, suara tersebut bisa saja didengar oleh ribuan, bahkan jutaan orang.

Dan itulah yang terjadi.

Video tersebut kemudian menjadi konsumsi publik.


Dari Panggung ke Kantor Polisi

Bagian ini mungkin yang paling tidak diperkirakan oleh siapa pun ketika acara dimulai.

Awalnya:

musik → joget → saweran.

Kemudian:

protes → emosi → video viral.

Dan akhirnya:

mediasi polisi.

Polres Pandeglang kemudian mempertemukan pihak-pihak yang terlibat. Dalam mediasi tersebut hadir Kepala Desa Padasuka Sara, pria yang disebut sebagai penyawer bernama Oman, serta pihak pemilik grup musik Laura Agustini.

Hasilnya?

Semua sepakat berdamai.

Pihak yang terlibat juga menyampaikan permintaan maaf dan sepakat tidak mengulangi tindakan yang dapat memicu perselisihan serupa.

Kades Sara juga menyampaikan permintaan maaf setelah mediasi.

Jadi, kalau dirangkum secara sederhana:

Berangkat untuk melihat dangdut, pulangnya membawa pelajaran tentang komunikasi.


Pelajaran Kecil dari Uang yang Terbang

Kisah ini sebenarnya bukan hanya soal biduan, kades, atau saweran.

Ada satu hal sederhana yang sering terlupakan ketika suasana sedang ramai:

bercanda tetap membutuhkan batas.

Apa yang menurut seseorang lucu belum tentu terasa lucu bagi orang lain.

Apa yang dianggap biasa oleh penonton belum tentu nyaman bagi orang yang menjadi sasaran.

Begitu pula dengan saweran.

Memberikan uang kepada penyanyi sebagai bentuk apresiasi tentu bisa menjadi bagian dari hiburan. Tetapi cara melakukannya tetap perlu memperhatikan kesopanan dan kenyamanan orang yang menerima.

Karena uang Rp2.000, Rp5.000, atau Rp100.000 tetaplah uang.

Tetapi harga diri seseorang tidak punya nominal.


Viral Bukan Berarti Semua Harus Ikut Memanas

Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting.

Video tersebut viral karena hanya memperlihatkan potongan kejadian. Orang yang menonton kemudian bisa mempunyai penilaian masing-masing.

Ada yang membela biduan.

Ada yang menyalahkan penyawer.

Ada yang mempertanyakan sikap kepala desa.

Ada pula yang hanya melihatnya sebagai tontonan media sosial.

Namun penyelesaian akhirnya justru tidak dilakukan melalui perang komentar.

Polisi memediasi pihak-pihak yang terlibat hingga tercapai kesepakatan damai. Semua pihak sepakat menyelesaikan persoalan melalui musyawarah dan menjaga hubungan baik.

Ini mungkin bagian paling penting dari cerita tersebut.

Sebab di media sosial, sebuah masalah bisa membesar hanya dalam beberapa jam.

Tetapi untuk menyelesaikannya, terkadang dibutuhkan kemauan untuk duduk bersama.


Dan Begitulah…

Malam itu mungkin tidak ada yang merencanakan akan pulang dengan membawa berita viral.

Biduan datang untuk bernyanyi.

Warga datang untuk menikmati hiburan.

Penyawer datang membawa uang.

Kepala desa berada di tengah acara.

Namun sebuah aksi saweran yang dilakukan dengan cara yang dianggap tidak pantas membuat suasana berubah.

Mikrofon pun berpindah tangan.

Kamera merekam.

Video menyebar.

Warganet berdiskusi.

Dan akhirnya polisi mempertemukan semua pihak.

Kalau biasanya acara dangdut punya sesi pembukaan, hiburan utama dan penutup, acara ini punya satu tambahan yang tidak tertulis:

sesi mediasi.

Untungnya, cerita tersebut tidak berakhir dengan saling bermusuhan.

Semua pihak akhirnya memilih berdamai dan meminta maaf.

Mungkin memang ada kalanya kita perlu belajar satu hal sederhana:

kalau uang mau dilempar, lebih baik dilempar ke celengan. Kalau mau memberi kepada orang lain, berikan dengan cara yang tetap menghargai.

Karena satu lembar uang mungkin hanya bernilai beberapa ribu rupiah.

Tetapi satu tindakan yang dianggap merendahkan bisa membuat masalah bernilai jauh lebih mahal.

Sumber: detikNews dan keterangan Polda Banten.

#Berita Viral#Biduan Viral#Cerita TotalMedia#Hiburan Rakyat#Kades Pandeglang#Konflik Kades dan Biduan#Mediasi Polisi#Pandeglang#Saweran#Viral Media Sosial
Bagikan WhatsApp Facebook

Penulis

admin

Penulis di TotalMedia.ID.