Ijazah di Tangan, Kerja Belum Datang: Fresh Graduate Masih Terjebak Jarak antara Harapan dan Kenyataan
JAKARTA – TotalMedia.ID. Banyak lulusan baru membayangkan bisa langsung bekerja setelah wisuda. Kenyataannya, kesempatan kerja pertama justru kian sulit didapat. Angka pengangguran nasional memang turun, tetapi jumlah sarjana yang belum bekerja masih besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran per Mei 2026 sebanyak 7,22 juta orang, berkurang 24 ribu orang dibanding Februari 2026. Menurut…

JAKARTA – TotalMedia.ID. Banyak lulusan baru membayangkan bisa langsung bekerja setelah wisuda. Kenyataannya, kesempatan kerja pertama justru kian sulit didapat. Angka pengangguran nasional memang turun, tetapi jumlah sarjana yang belum bekerja masih besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran per Mei 2026 sebanyak 7,22 juta orang, berkurang 24 ribu orang dibanding Februari 2026. Menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud, tingkat pengangguran terbuka (TPT) 4,65 persen pada Mei 2026 adalah yang terendah sejak 1994.
Namun, di balik angka itu, pengangguran dari lulusan D4, S1 hingga S3 mencapai 1,03 juta orang, atau 14,31 persen dari total pengangguran. Sebagai perbandingan, lulusan universitas hanya mengisi 10,75 persen dari 148,19 juta penduduk yang bekerja.
Lowongan Tak Sesuai Jurusan
Salah satu hambatan terbesar adalah lowongan yang tidak cocok dengan bidang studi. Andi Irgi (25), lulusan Sejarah tahun 2025, sudah mengirim lamaran sejak sebelum wisuda dan masih terus melamar sampai sekarang. “Banyak loker yang kebuka cuman enggak relate sama keilmuan gue,” katanya kepada Kompas.com. Kondisi itu membuatnya melamar berbagai pekerjaan di luar bidang studinya. (Fresh Graduate Dibilang Terlalu Pilih-pilih Kerja, Ternyata Ini Hambatan yang Mereka Hadapi.
Hal serupa dialami Ikrom, pencari kerja di Job Fair Jakarta Barat, Cengkareng. Ia mencari pekerjaan di industri konstruksi atau manufaktur sesuai latar pendidikannya, tetapi belum menemukan lowongan yang cocok.
Gen Z Mendominasi Pengangguran
Masalah ini paling terasa di kalangan muda. Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani menyebut 67 persen pengangguran, atau sekitar 4,9 juta orang, berasal dari Gen Z berusia 15–29 tahun. Ia juga mengkritik definisi bekerja yang dipakai dalam statistik, karena seseorang yang bekerja satu jam dalam seminggu sudah dihitung bekerja, sehingga angka pengangguran terlihat rendah.
Tekanan juga datang dari teknologi. Riset portal kerja Swiss, jobs.ch, yang dikutip Reuters menemukan porsi lowongan tingkat pemula di Swiss pada 2025 turun 32 persen dibanding periode 2019–2022. Bidang yang paling terdampak antara lain pemasaran, administrasi, keuangan, dan IT.
Dampak pada Mental Lulusan
Selain soal ekonomi, sulitnya mencari kerja juga memengaruhi kondisi psikologis lulusan baru. Penelitian menunjukkan fresh graduate mengalami kecemasan tinggi saat melamar kerja, terutama pada tahap wawancara dan seleksi. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa membuat lulusan menghindari persaingan kerja dan memperpanjang masa menganggur.
Psikolog pendidikan dan keluarga, Maulidah Muflihah, M.Psi., Psikolog, menilai kesiapan mental lulusan tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. “Kesiapan mental perlu dibangun sejak masih kuliah, bukan baru dimulai setelah wisuda,” ujarnya.
Ia menyarankan mahasiswa aktif mencari pengalaman lewat magang, organisasi, proyek, atau kerja paruh waktu. “Siapkan rencana cadangan, dan terima bahwa pekerjaan pertama belum tentu sesuai jurusan. Penolakan lamaran itu bagian dari proses, bukan tanda gagal,” katanya.
Menurut Maulidah, orang tua juga punya peran penting sebagai penyangga emosi anak. “Jangan bandingkan anak dengan teman atau tetangga, jangan terus menekan dengan pertanyaan ‘kapan kerja?’. Tunjukkan bahwa harga diri anak tidak ditentukan oleh status pekerjaannya,” tuturnya.
Ia menambahkan, dukungan yang hangat dan tetap mendorong anak bertanggung jawab akan menjaga kepercayaan diri lulusan. “Dengan begitu, kecemasan tidak berubah menjadi sikap menghindar yang justru memperpanjang masa menganggur,” pungkasnya. G. Mahendra



