Wajah yang Menetap di Halaman Yasin
Di balik buku Yasin bergambar almarhum yang dibagikan saat tahlilan, ada kerinduan keluarga, harapan amal jariyah, dan perdebatan soal kepatutan. Malam keempat puluh. Tikar sudah digelar sejak sore, gelas teh berjajar di sudut ruang tamu. Ketika lantunan tahlil mereda dan doa penutup diamini bersama, tuan rumah mulai membagikan bingkisan kepada para tamu. Di antara kotak…

Di balik buku Yasin bergambar almarhum yang dibagikan saat tahlilan, ada kerinduan keluarga, harapan amal jariyah, dan perdebatan soal kepatutan.
Malam keempat puluh. Tikar sudah digelar sejak sore, gelas teh berjajar di sudut ruang tamu. Ketika lantunan tahlil mereda dan doa penutup diamini bersama, tuan rumah mulai membagikan bingkisan kepada para tamu. Di antara kotak nasi berkat, terselip sebuah buku saku tipis bersampul lunak.
Begitu dibuka, halaman pertamanya menyambut dengan seraut wajah: foto almarhum yang baru saja didoakan bersama, lengkap dengan nama, tanggal lahir, dan tanggal wafatnya. Sebagian tamu tersentuh. Sebagian lagi diam-diam merasa bergidik.
Buku Yasin dan tahlil bergambar mendiang semacam ini bukan pemandangan langka, terutama di Jawa, tempat tradisi tahlilan masih berakar kuat. Bagi orang luar, cetakan itu mungkin terkesan ganjil, bahkan sedikit menyeramkan. Namun bagi keluarga yang mencetaknya, buku kecil itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kertas dan tinta.
Souvenir dari rumah duka
Di sebuah desa di Jombang, Jawa Timur, kebiasaan ini masih hidup. Sabirin (27), warga setempat, menuturkan kepada Mojok.co bahwa buku Yasin lazim dibagikan pada peringatan 40 atau 100 hari kematian, ibarat cendera mata yang boleh dibawa pulang tamu. Sampulnya hampir selalu lunak, jarang sekali yang hard cover. Satu hal yang nyaris tak pernah absen: foto almarhum atau almarhumah.
Meski begitu, tak semua keluarga sanggup melakukannya. Menurut Sabirin, biasanya hanya keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik yang mencetak buku Yasin sendiri.
Agar nama tak lekas hilang dari ingatan
Aziz, warga sedesa Sabirin yang berusia 40-an, punya alasan yang sederhana namun menyentuh. Dulu, katanya, belum banyak orang memiliki ponsel untuk menyimpan foto. Wajah orang yang sudah tiada mudah hilang ditelan waktu.
Kini memang zaman sudah berubah. Foto mendiang bisa tersimpan rapi di galeri ponsel keluarga. Tapi justru di situ persoalannya: hanya keluarga yang menyimpannya. Lewat buku Yasin yang dibagikan ke tetangga, Aziz berharap orang-orang di sekitar tetap ingat bahwa mereka pernah punya tetangga bernama Pak Fulan atau Bu Fulanah.
Dan ada harapan lain yang terasa lebih dalam. Buku Yasin berisi surat Yasin lengkap serta rangkaian doa tahlil, permohonan ampunan, dan kelapangan di alam kubur. Keluarga berharap, bukan hanya foto almarhum yang “menempati” halaman penuh doa itu, tetapi ruh dan jasadnya pun benar-benar mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt.
Berharap pahala yang terus mengalir
Alasan terbesar, kata Aziz, adalah amal jariyah. “Semoga jadi amal jariyah bagi almarhum,” ujarnya kepada Mojok.co.
Logikanya begini. Tidak semua orang hafal surat Yasin dan bacaan tahlil di luar kepala. Saat tahlilan bersama, mereka cukup mengikuti imam; bagian yang tak hafal bisa dilewati dalam diam. Lain cerita ketika seseorang berziarah sendirian ke makam pada malam Jumat atau saat Ramadan. Karena takut keliru, buku Yasin pun dibawa.
Di titik itulah buku pemberian keluarga duka menjadi berguna. Setiap kali dibaca, keluarga berharap pahalanya ikut mengalir kepada mendiang. Syukur-syukur, ketika halaman depan terbuka dan wajah almarhum terlihat, si pembaca tergerak mengirimkan doa.
Sabirin mengakui, tak semua orang langsung berdoa saat melihat foto itu. Namun ia sepakat buku tersebut memang bermanfaat. Banyak warga masih membeli buku Yasin baru di toko ketika buku lamanya sudah lusuh. Mendapat buku gratis dari tetangga, berarti tak perlu membeli lagi.
Dari tradisi lisan ke mesin cetak
Tahlilan sendiri punya perjalanan panjang. Liputan detikJatim menjelaskan, jauh sebelum Islam menyebar, masyarakat Jawa sudah mengenal slametan, termasuk untuk menandai kematian. Para penyebar Islam kemudian mengisi tradisi itu dengan zikir, ayat Al-Qur’an, dan doa, hingga dikenal sebagai tahlilan. Meski demikian, asal-usulnya tidak memiliki satu versi sejarah yang mutlak.
Sejarawan almarhum Agus Sunyoto, dalam diskusi dengan NU Online, berpendapat bahwa tradisi peringatan 7 hingga 1.000 hari tidak dikenal dalam ritual Hindu. Ia melacaknya pada Wali Songo, khususnya Sunan Ampel, yang membawa tradisi tersebut dari negeri Champa.
Awalnya, bacaan tahlil diwariskan dari mulut ke mulut. Mesin cetak mengubah segalanya. Merujuk kajian Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (1995), teks keagamaan pendek seperti doa dan surat Yasin mulai dicetak massal di Singapura dan Bombay, lalu merambah Batavia dan Surabaya pada awal abad ke-20.
Lompatan berikutnya datang pada 1990-an hingga 2000-an. Komputer pribadi dan percetakan digital yang kian murah membuat buku Yasin bisa dipersonalisasi: nama lengkap, silsilah, tanggal lahir dan wafat, hingga foto mendiang. Buku yang semula sekadar alat bantu baca bersama pun menjelma cendera mata yang diberikan permanen kepada pelayat. Fenomena ini sejalan dengan analisis Greg Fealy dan Sally White dalam Expressing Islam (2008) tentang kelas menengah Muslim yang menghadirkan agama dalam kemasan produk konsumen.
Doa, gotong royong, dan batas kewajaran
Di Jawa Timur, tahlilan tak hanya bermakna spiritual. Ia juga ruang sosial: tetangga datang membantu, menguatkan keluarga yang berduka, lalu pulang membawa berkat sebagai bentuk sedekah dan kebersamaan.
Namun tradisi juga bisa terasa berat bagi yang tak mampu. Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), kepada NU Online, pernah menegaskan bahwa tahlilan tidak semestinya memberatkan. Bagi keluarga kurang mampu, jamuan cukup air dan kue seadanya. Artinya, buku Yasin bergambar pun bukan keharusan, melainkan pilihan bagi yang lapang.
Boleh, tapi perhatikan kepatutan
Lalu, bagaimana hukumnya? Para ulama umumnya tidak serta-merta mengharamkan.
Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, menjelaskan bahwa foto pada dasarnya bukan sesuatu yang hina, sehingga memasangnya di buku Yasin tidak diharamkan selama fotonya pantas. Meski begitu, ia menyarankan sebaiknya tidak dilakukan, demi menjaga kepatutan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Ustaz Abdul Somad juga tidak menyalahkan praktik ini. Namun jika keluarga hendak berwakaf kepada pelayat, ia menganjurkan mushaf Al-Qur’an utuh 30 juz sebagai pilihan yang lebih utama ketimbang buku Yasin.
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa Nomor 5 Tahun 2005 menyatakan menempelkan foto atau tulisan pada mushaf Al-Qur’an hukumnya haram bila mengandung unsur pelecehan terhadap mushaf, atau bila memicu perselisihan di tengah umat. Sebagai jalan tengah, MUI menyarankan memperindah mushaf lewat desain sampul yang menarik namun tetap sopan.
Bagi keluarga yang tetap ingin mencetak, pesan para ulama itu bisa menjadi pegangan: pilih foto yang sopan, tempatkan di halaman pembuka yang terpisah dari ayat suci, dan luruskan niat untuk berbagi manfaat, bukan untuk pamer.
Ketika empat puluh hari terasa singkat
Empat puluh hari sering berlalu lebih cepat dari yang dibayangkan. Di tengah duka, keluarga masih harus mengurus undangan, konsumsi, hingga berkat. Buku Yasin kerap menjadi urusan yang tertunda sampai menjelang hari-H.
Bayangkan seorang anak yang ingin menghadiahkan buku Yasin terbaik untuk mengenang ayahnya. Ia ingin sampulnya rapi, fotonya pantas, dan isinya nyaman dibaca tetangga yang sudah sepuh. Namun ia tak punya waktu untuk mendesain, apalagi berkeliling mencari percetakan.
Kebutuhan seperti inilah yang dilayani Jagocetak.id, percetakan di Sidoarjo, Jawa Timur, yang telah berkiprah lebih dari 20 tahun. Mereka melayani buku Yasin dan tahlil untuk peringatan 7, 40, 100, dan 1.000 hari hingga haul, dengan desain custom tanpa biaya tambahan. Pilihannya softcover atau hardcover full-color, dengan opsi foto almarhum atau almarhumah di sampul, bukan di sela ayat, sehingga adab yang dipesankan para ulama tetap terjaga.
Isinya memuat surat Yasin dan doa tahlil standar, dicetak di kertas HVS 80 gsm ukuran A5 (14,85 × 21 cm) dengan sampul art paper 210 gsm. Ukuran A5 membuat huruf lebih lega dibanding buku saku pada umumnya, sehingga lebih nyaman bagi jamaah lanjut usia. Pemesanan dimulai dari 50 eksemplar dengan pengerjaan sekitar 1–3 hari, dilengkapi garansi cetak ulang bila hasilnya tidak sesuai.
Workshop fisiknya berada di Jl. Gadung No. 5, Wage, Taman, Sidoarjo, dan buka setiap hari pukul 08.00–21.00 WIB, termasuk hari Minggu dan tanggal merah. Pengiriman menjangkau seluruh Indonesia, sehingga keluarga yang tinggal jauh pun tetap bisa menyiapkan kenang-kenangan tepat waktu.
Kembali ke laci yang sunyi
Bertahun-tahun kemudian, buku tipis itu mungkin tersimpan di laci, terselip di antara sajadah dan peci. Lalu pada suatu malam Jumat, seseorang mengambilnya sebelum berangkat ke makam keluarganya sendiri. Ia membuka halaman pertama, dan wajah yang dulu dikenalnya menatap balik.
Mungkin ia hanya bergumam pelan, “Oh iya, Pak Fulan.” Mungkin juga, tanpa direncanakan, bibirnya melafalkan Al-Fatihah untuk tetangga lama itu.
Barangkali di situlah makna sebuah buku Yasin bergambar: kenangan yang dicetak, dengan harapan doa yang tak pernah putus.
Ingin menyiapkan buku Yasin dan tahlil custom untuk tahlilan, haul, atau acara keluarga? Lihat contoh hasil cetaknya di portofolio buku Yasin Jagocetak.id, lalu konsultasi gratis lewat WhatsApp 0877-8041-1726. Cukup informasikan jumlah eksemplar (mulai 50) dan pilihan sampul, softcover atau hardcover. Workshop: Jl. Gadung No. 5, Wage, Taman, Sidoarjo, dengan pengiriman ke seluruh Indonesia.
Sumber:
- Mojok.co – Cetak Buku Yasin buat Tahlilan Pakai Foto Almarhum (8/10/2026)
- MUI – Menempelkan Foto Almarhum di Sampul atau Halaman Mushaf Alquran, Bolehkah?
- detikJatim – Kenapa Tahlilan Jadi Tradisi di Jawa Timur? (7/10/2026)
- NU Online – Benarkah Tahlil dari Tradisi Hindu?
- NU Online – Tradisi NU Bukan Budaya Sinkretis
- NU Online – Jangan Memberatkan, Ketua PBNU: Jamuan Tahlil Cukup Air Putih dan Kue Seadanya
Advertorial
Tim Advertorial TotalMedia.ID
Konten promosi dan informasi berbayar yang dipublikasikan melalui TotalMedia.ID.



