TotalMedia.ID — Cerita, Inspirasi & Informasi
Tips

Melatih Diri agar Tak Terus Menunda Pekerjaan, Mulai dari Langkah Kecil

Redaksi TotalMedia.ID5 menit baca
Melatih Diri agar Tak Terus Menunda Pekerjaan, Mulai dari Langkah Kecil
Melatih Diri agar Tak Terus Menunda Pekerjaan, Mulai dari Langkah Kecil

Pernah duduk di depan laptop dengan niat menyelesaikan pekerjaan, tetapi justru sibuk membuka ponsel, mengecek pesan, atau merapikan meja? Ketika tersadar, waktu sudah berlalu cukup lama, sementara pekerjaan utama belum juga tersentuh.

Situasi seperti ini akrab bagi banyak orang. Ada tugas yang sebenarnya bisa segera dimulai, tetapi entah mengapa selalu terasa lebih mudah untuk mengerjakannya nanti. Besok, setelah makan siang, setelah suasana hati membaik, atau ketika pikiran sudah terasa lebih siap.

Kebiasaan menunda pekerjaan dikenal sebagai prokrastinasi. Meski sering dianggap sebagai tanda kemalasan, persoalannya tidak selalu sesederhana itu. Terkadang, seseorang menunda karena tugas terasa terlalu besar, membingungkan, membosankan, atau menimbulkan kekhawatiran akan hasil akhirnya.

Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dihadapi melalui perubahan kecil dalam rutinitas sehari-hari. Bukan dengan memaksa diri bekerja tanpa henti, melainkan dengan belajar mengenali hambatan, mengatur lingkungan, dan membuat langkah pertama terasa lebih mudah.

Memahami Alasan di Balik Kebiasaan Menunda

Sebelum mencoba berbagai cara untuk meningkatkan produktivitas, ada baiknya memahami mengapa pekerjaan sering tertunda. Ketika sebuah tugas memunculkan rasa tidak nyaman, beralih ke kegiatan lain bisa memberikan kelegaan sesaat. Namun, pekerjaan yang belum selesai tetap menunggu dan berpotensi menambah tekanan ketika tenggat waktu semakin dekat.

Penelitian mengenai prokrastinasi dan regulasi emosi yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences pada 2025 menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara kesulitan mengelola emosi dan kebiasaan menunda tugas akademik. Temuan tersebut mengingatkan bahwa persoalan penundaan tidak hanya berkaitan dengan pengaturan waktu, tetapi juga bagaimana seseorang menghadapi perasaan ketika berhadapan dengan pekerjaan.

Karena itu, solusi yang digunakan sebaiknya tidak sebatas membuat daftar tugas yang panjang. Seseorang juga perlu belajar menghadapi rasa enggan, menerima bahwa hasil awal mungkin belum sempurna, dan membiasakan diri untuk tetap mengambil langkah pertama.

Mulai dari Lima Menit Pertama

Salah satu cara sederhana untuk menghadapi penundaan adalah aturan lima menit. Prinsipnya, seseorang cukup berkomitmen mengerjakan tugas selama lima menit sebelum memutuskan apakah akan melanjutkannya.

Misalnya, laporan yang harus diselesaikan terasa terlalu berat. Daripada langsung menargetkan laporan lengkap, mulailah dengan membuka dokumen, membaca kembali catatan, lalu menulis satu paragraf pembuka.

Pendekatan ini sejalan dengan panduan Oxford Health NHS Foundation Trust mengenai deprokrastinasi. Lembaga tersebut menyarankan aturan lima menit untuk mengurangi hambatan mental saat memulai pekerjaan.

Hal terpenting bukanlah menyelesaikan seluruh tugas dalam lima menit. Tujuannya adalah mengubah keadaan dari belum memulai menjadi sudah melakukan sesuatu.

Ketika pekerjaan sudah berjalan, seseorang bisa mengevaluasi apakah dirinya sanggup melanjutkan. Jika masih memiliki energi, pekerjaan dapat diteruskan. Jika memang lelah, istirahat singkat atau penjadwalan ulang yang realistis bisa menjadi pilihan.

Pecah Pekerjaan Besar Menjadi Bagian Kecil

Bayangkan seseorang mendapat tugas membuat presentasi untuk rapat minggu depan. Jika targetnya hanya ditulis sebagai “selesaikan presentasi”, pekerjaan tersebut mungkin terasa besar karena mencakup pencarian data, penyusunan materi, pembuatan desain, hingga pemeriksaan akhir.

Cobalah membaginya menjadi beberapa tahapan. Hari pertama digunakan untuk menentukan kerangka, berikutnya mengumpulkan informasi, kemudian menyusun beberapa slide, dan terakhir memeriksa keseluruhan materi.

Cara serupa dapat diterapkan untuk belajar, mengerjakan tugas rumah, atau menyelesaikan pekerjaan kantor. Target yang lebih konkret membantu seseorang memahami apa yang perlu dilakukan saat ini tanpa harus terus memikirkan seluruh proses sekaligus.

Oxford Health NHS Foundation Trust juga merekomendasikan pemecahan tugas kompleks menjadi bagian yang lebih kecil dan mudah dikelola. Setiap bagian dapat diberi target waktu yang masuk akal sehingga kemajuan terasa lebih jelas.

Jangan Menunggu Motivasi Datang

Tidak sedikit orang yang merasa harus menunggu suasana hati membaik sebelum mulai bekerja. Padahal, motivasi tidak selalu hadir pada waktu yang tepat. Jika setiap tugas menunggu kondisi ideal, pekerjaan dapat terus bergeser hingga mendekati tenggat.

Sebagai alternatif, buatlah aturan sederhana berdasarkan rutinitas. Contohnya, setelah sarapan, luangkan 20 menit untuk mengerjakan tugas utama. Setelah membuka laptop pada pagi hari, selesaikan satu bagian pekerjaan sebelum memeriksa media sosial.

Rencana seperti “jika-maka” membantu menghubungkan situasi tertentu dengan tindakan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, seseorang tidak perlu berulang kali berdebat dengan dirinya sendiri mengenai kapan harus mulai.

Tetapkan pula target yang realistis. Tidak semua pekerjaan harus selesai dalam satu sesi. Konsistensi memulai dan melanjutkan sedikit demi sedikit sering lebih masuk akal daripada membuat target besar yang sulit dipertahankan.

Atur Lingkungan agar Lebih Mudah Fokus

Lingkungan kerja juga berpengaruh terhadap kebiasaan menunda. Ponsel yang terus berbunyi, notifikasi media sosial, atau banyaknya tab yang terbuka dapat mengalihkan perhatian ketika pekerjaan mulai terasa membosankan.

Sebelum mulai bekerja, siapkan dokumen yang dibutuhkan, rapikan meja secukupnya, dan letakkan ponsel di luar jangkauan jika memungkinkan. Matikan notifikasi yang tidak penting selama sesi fokus.

Tidak perlu menunggu ruang kerja menjadi sempurna. Persiapan ini cukup dilakukan untuk mengurangi gangguan dan mempermudah seseorang kembali ke tugas utama.

Buatlah daftar tugas harian yang sederhana. Pilih satu pekerjaan paling penting sebagai prioritas pertama, kemudian tempatkan pekerjaan tambahan setelahnya. Daftar yang terlalu panjang justru bisa membuat seseorang kesulitan menentukan langkah awal.

Belajar Menghargai Kemajuan, Bukan Kesempurnaan

Salah satu alasan pekerjaan tertunda adalah keinginan menghasilkan sesuatu yang langsung sempurna. Akibatnya, seseorang terlalu lama memikirkan kalimat pembuka, desain, atau detail kecil sebelum menghasilkan versi pertama.

Untuk menghadapinya, pisahkan proses membuat draf dan proses memperbaiki hasil. Ketika menulis, misalnya, selesaikan gagasan utama terlebih dahulu. Setelah kerangka terbentuk, barulah periksa tata bahasa, susunan paragraf, dan detail lainnya.

Catat pula bagian yang berhasil diselesaikan. Checklist sederhana dapat membantu menunjukkan bahwa pekerjaan mengalami kemajuan, meskipun belum sepenuhnya selesai.

Penting juga untuk tidak langsung menyalahkan diri ketika kembali menunda. Perhatikan apa yang menjadi pemicunya, lalu sesuaikan strategi untuk sesi berikutnya. Pendekatan yang realistis memberi ruang untuk memperbaiki kebiasaan tanpa menambah tekanan yang tidak perlu.

Ketika Menunda Menjadi Pola yang Mengganggu

Teknik pengelolaan waktu dapat membantu banyak orang, tetapi tidak semua kebiasaan menunda memiliki penyebab yang sama. Kelelahan, stres, ketakutan terhadap kegagalan, ketidakjelasan tugas, dan kesulitan mempertahankan perhatian dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk memulai pekerjaan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMC Psychology pada Agustus 2026 juga menelaah hubungan antara kesadaran penuh atau mindfulness, kontrol perhatian, regulasi emosi, dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya memahami faktor perhatian dan emosi ketika membicarakan kebiasaan menunda.

Namun, hasil penelitian semacam ini tidak berarti satu teknik pasti cocok bagi semua orang. Strategi yang efektif perlu disesuaikan dengan keadaan, jenis pekerjaan, dan hambatan yang sedang dihadapi.

Jika kebiasaan menunda berlangsung terus-menerus hingga mengganggu sekolah, pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari tenaga profesional dapat menjadi langkah yang bermanfaat.

Pada akhirnya, melatih diri agar tidak terus menunda bukan berarti harus menjadi orang yang selalu sibuk. Perubahan dapat dimulai dengan mengenali satu tugas yang paling penting, menentukan tindakan pertama yang sederhana, lalu memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk memulainya hari ini.

Sebab, pekerjaan besar tidak selalu membutuhkan langkah awal yang besar. Terkadang, membuka dokumen, menulis satu kalimat, atau meluangkan lima menit pertama sudah cukup untuk mengubah rencana menjadi tindakan.

#Kebiasaan Positif#Kesehatan Mental#Manajemen Waktu#Melatih Fokus#Pengembangan Diri#Prokrastinasi#Tips Produktivitas
Bagikan WhatsApp Facebook

Redaksi

Redaksi TotalMedia.ID

Tim redaksi TotalMedia.ID.