Roblox untuk Anak, Benarkah Aman? Ini Dampak Positif dan Risikonya Menurut Psikolog
SURABAYA, TOTALMEDIA.ID — Roblox bukan lagi sekadar permainan untuk mengisi waktu luang. Bagi banyak anak dan remaja, platform ini sudah menjadi ruang untuk bermain, berkreasi, berkomunikasi, bahkan bertemu teman secara virtual. Di balik popularitas tersebut, muncul pertanyaan yang semakin penting bagi orang tua: apakah Roblox aman untuk anak? Jawabannya ternyata tidak sesederhana “aman” atau “berbahaya”.…

SURABAYA, TOTALMEDIA.ID — Roblox bukan lagi sekadar permainan untuk mengisi waktu luang. Bagi banyak anak dan remaja, platform ini sudah menjadi ruang untuk bermain, berkreasi, berkomunikasi, bahkan bertemu teman secara virtual.
Di balik popularitas tersebut, muncul pertanyaan yang semakin penting bagi orang tua: apakah Roblox aman untuk anak?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “aman” atau “berbahaya”.
Psikolog melihat permainan digital memiliki dua sisi. Jika digunakan dengan tepat, game dapat membantu mengembangkan kemampuan kognitif dan fokus. Namun, penggunaan berlebihan atau tanpa pengawasan dapat mengganggu waktu belajar, konsentrasi, aktivitas fisik, hingga kesehatan mental anak. Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih, misalnya, menjelaskan bahwa permainan digital tertentu dapat melatih perhatian dan kemampuan menyimpan informasi, tetapi penggunaan berlebihan dapat membuat anak sulit lepas dari gawai dan mengganggu aktivitas lainnya.
Roblox memiliki tantangan tambahan karena sebagian besar pengalaman di dalam platform dibuat oleh pengguna. Artinya, pengalaman bermain yang ditemui anak tidak selalu sama dan tingkat keamanannya sangat bergantung pada game, interaksi, serta pengaturan akun.
Lantas, apa yang perlu diketahui orang tua?
1. Roblox Bisa Menghibur, tetapi Ada Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan
Roblox memiliki banyak jenis permainan dan aktivitas. Anak dapat bermain bersama teman, membuat dunia virtual, mencoba permainan simulasi, hingga belajar membuat pengalaman sendiri.
Namun, sifat platform yang interaktif juga membuat orang tua perlu lebih aktif mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan anak ketika bermain.
Risikonya bukan hanya soal durasi bermain.
Anak juga dapat berhadapan dengan konten yang tidak sesuai usia, percakapan dengan orang asing, perilaku agresif, maupun pengalaman digital yang belum mampu mereka pahami secara matang.
Karena itu, pertanyaan orang tua sebaiknya tidak berhenti pada:
“Kamu main Roblox berapa jam?”
Tetapi juga:
“Kamu tadi main game apa?”
“Main dengan siapa?”
“Ada yang mengajak chat pribadi?”
“Ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman?”
Pendekatan seperti ini membuat orang tua lebih mudah mengetahui kondisi anak tanpa langsung membuat mereka merasa diinterogasi.
2. Tabel Perbandingan: Dampak Positif dan Risiko Roblox
| Aspek | Potensi Positif | Risiko Jika Tidak Diawasi |
|---|---|---|
| Kognitif | Melatih strategi, fokus dan pemecahan masalah | Fokus dapat terganggu jika bermain berlebihan |
| Kreativitas | Membuat dunia dan pengalaman virtual | Anak lebih banyak menjadi konsumen daripada kreator |
| Sosial | Bermain bersama dan bekerja sama | Interaksi dengan orang asing |
| Komunikasi | Melatih koordinasi dalam permainan tim | Konflik, bullying atau percakapan tidak sehat |
| Teknologi | Mengenal desain dan konsep coding | Terlalu bergantung pada perangkat |
| Hiburan | Membantu relaksasi | Waktu tidur dan belajar dapat berkurang |
| Roleplay | Mengenal berbagai peran sosial | Anak dapat terpapar skenario yang belum sesuai usia |
| Kemandirian | Belajar memilih dan mengambil keputusan | Sulit berhenti jika kontrol diri belum berkembang |
Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih menekankan bahwa game dapat memiliki manfaat kognitif apabila dipilih dan digunakan dengan tepat. Namun, ketika anak sudah sulit lepas dari permainan, waktu belajar, konsentrasi, aktivitas fisik, serta kesehatan fisik dan mental dapat ikut terdampak.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata “Roblox atau tidak Roblox”, melainkan bagaimana anak menggunakan platform tersebut.
3. Mengapa Roblox Bisa Membuat Anak Sulit Berhenti?
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah pola permainan yang memberikan pengalaman menyenangkan secara berulang.
Anak menyelesaikan misi, mendapatkan pencapaian, menemukan sesuatu yang baru, kemudian ingin mencoba lagi.
Siklus tersebut bisa membuat waktu bermain terasa cepat berlalu.
Awalnya mungkin hanya berniat bermain 30 menit.
Tanpa terasa menjadi satu jam.
Kemudian dua jam.
Jika pola tersebut terus berulang dan anak mulai mengorbankan tidur, belajar, makan, olahraga atau interaksi keluarga, orang tua perlu mulai memberikan perhatian lebih serius.
Maharani menjelaskan bahwa ketika anak sudah sulit melepaskan diri dari game, motivasi belajar dapat turun dan konsentrasi terganggu.
Namun, orang tua juga perlu menghindari kesimpulan terburu-buru bahwa setiap anak yang sering bermain game berarti sudah kecanduan.
Yang lebih penting adalah melihat perubahan fungsi sehari-hari.
4. Perspektif Psikolog Maulidah Muflichah: Jangan Langsung Melarang
Maulidah Muflichah, M.Psi., Psikolog., CHt., merupakan Founder dan Psikolog Utama Talenta Mulia dengan keahlian di bidang psikologi klinis, terapi keluarga, konseling pernikahan, dan hipnoterapi. Talenta Mulia juga menyediakan pendampingan untuk anak, remaja, keluarga, termasuk masalah penggunaan gadget dan game.
Dalam pembahasan mengenai game digital, Maulidah pernah menyarankan orang tua untuk memiliki tiga sikap: terbuka, kritis, dan edukatif.
Menurutnya, orang tua tidak sebaiknya buru-buru menolak aktivitas digital anak. Justru, keterbukaan dapat menjadi pintu untuk memahami minat dan kebiasaan anak. Orang tua kemudian perlu bersikap kritis terhadap tujuan aktivitas tersebut dan tetap memberikan edukasi serta batasan yang jelas.
Pendekatan ini relevan ketika diterapkan pada Roblox.
Artinya, ketika anak mengatakan:
“Aku mau main Roblox.”
Respons orang tua tidak harus selalu:
“Tidak boleh!”
Orang tua bisa menggantinya dengan pertanyaan:
“Kamu mau main yang mana?”
“Apa yang menarik dari game itu?”
“Main sama siapa?”
“Berapa lama?”
Dari percakapan sederhana tersebut, orang tua bisa mengetahui apakah Roblox digunakan sebagai hiburan sesekali, sarana bersosialisasi, aktivitas kreatif, atau sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
5. Risiko yang Sering Terlupakan: Teman di Balik Layar
Salah satu perbedaan game offline dan platform online seperti Roblox adalah adanya interaksi dengan pengguna lain.
Anak mungkin merasa sedang bermain dengan “teman”.
Tetapi orang tua belum tentu mengetahui siapa sebenarnya orang yang berada di balik akun tersebut.
Karena itu, fitur komunikasi harus menjadi perhatian.
Anak perlu memahami bahwa:
Tidak semua orang di internet adalah teman.
Anak juga sebaiknya tidak memberikan informasi pribadi seperti:
- nama lengkap;
- alamat rumah;
- nama sekolah;
- nomor telepon;
- foto pribadi;
- kata sandi;
- lokasi;
- informasi keluarga.
Jika ada seseorang yang meminta merahasiakan percakapan, mengajak berpindah ke platform lain, meminta foto, memberikan hadiah virtual dengan syarat tertentu, atau membuat anak merasa takut dan tidak nyaman, anak harus tahu bahwa ia boleh berhenti berkomunikasi dan memberi tahu orang tua.
6. Benarkah Roblox Selalu Buruk untuk Perkembangan Anak?
Tidak.
Justru di sinilah orang tua perlu melihat Roblox secara lebih proporsional.
Platform permainan dapat menjadi ruang eksplorasi jika anak diarahkan menjadi pencipta, bukan hanya pemain.
Pengalaman seperti membuat dunia virtual, memahami aturan permainan, menyusun strategi, atau mengenal konsep desain dan coding dapat memberikan stimulasi yang berbeda dari sekadar menonton video secara pasif.
Psikolog Maharani juga menyebut bahwa permainan tertentu dapat membantu mengembangkan fokus, perhatian, serta kemampuan menyimpan dan memproses informasi.
Dengan kata lain, game digital tidak otomatis membuat kemampuan anak menurun.
Yang perlu dilihat adalah jenis aktivitas, durasi, konteks dan dampaknya terhadap kehidupan anak.
7. Bagaimana Orang Tua Menentukan Batas yang Sehat?
Maulidah sebelumnya menyarankan adanya kesepakatan waktu bermain yang jelas, termasuk evaluasi berkala. Dalam konteks aktivitas game, orang tua perlu konsisten dengan aturan yang sudah dibuat.
Daripada hanya mengatakan:
“Jangan main terlalu lama!”
lebih baik membuat aturan konkret.
Misalnya:
Waktu bermain: setelah tugas sekolah selesai.
Durasi: ditentukan bersama dan disesuaikan usia serta kondisi anak.
Aturan: tidak bermain saat makan, belajar, atau menjelang tidur.
Keamanan: komunikasi dengan orang asing harus dihindari.
Evaluasi: orang tua mengecek kembali apakah aturan tersebut benar-benar berjalan.
Jika anak mampu mengikuti kesepakatan, orang tua dapat memberikan apresiasi.
Sebaliknya, jika aturan terus dilanggar, konsekuensi harus diberikan secara konsisten dan tidak berubah-ubah.
8. Tanda Orang Tua Perlu Mulai Waspada
Perhatikan jika anak mulai menunjukkan perubahan seperti:
- marah berlebihan ketika diminta berhenti;
- sulit mengurangi waktu bermain;
- tidur semakin larut karena game;
- malas melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai;
- prestasi atau tugas sekolah mulai terganggu;
- mengabaikan makan atau aktivitas fisik;
- terus memikirkan game ketika sedang melakukan aktivitas lain;
- berbohong mengenai lama bermain;
- menarik diri dari keluarga atau lingkungan;
- tetap bermain meski sudah mengetahui dampak negatifnya.
Satu tanda saja belum tentu berarti anak mengalami gangguan.
Tetapi jika beberapa perubahan muncul sekaligus dan berlangsung terus-menerus, orang tua sebaiknya tidak mengabaikannya.
9. Jangan Jadikan “Larangan Total” sebagai Satu-satunya Solusi
Melarang anak bermain memang terkadang diperlukan dalam situasi tertentu.
Namun, larangan tanpa komunikasi bisa membuat anak mencari jalan lain.
Di sinilah pendekatan terbuka, kritis dan edukatif menjadi penting.
Anak perlu memahami alasan sebuah aturan dibuat.
Bukan sekadar mengetahui bahwa orang tua berkata “tidak boleh”.
Dengan cara tersebut, tujuan akhirnya bukan hanya membuat anak berhenti bermain Roblox.
Tujuan yang lebih penting adalah membantu anak memiliki kemampuan mengatur dirinya sendiri ketika menggunakan teknologi.
Kemampuan ini akan jauh lebih berguna ketika mereka semakin besar dan memiliki akses ke lebih banyak platform digital.
10. Kesimpulan: Roblox Bukan Musuh, tetapi Juga Bukan Babysitter
Roblox tidak bisa begitu saja dicap sebagai permainan yang sepenuhnya buruk atau sepenuhnya aman.
Ada potensi kreativitas, pemecahan masalah, kerja sama dan pembelajaran.
Namun, ada pula risiko konten yang tidak sesuai usia, interaksi dengan orang asing, penggunaan berlebihan dan terganggunya aktivitas penting anak.
Karena itu, peran orang tua tetap menjadi kunci.
Anak tidak hanya membutuhkan aturan.
Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau memahami dunia digital yang mereka masuki.
Rekomendasi praktis untuk orang tua
1. Kenali game yang dimainkan anak.
Jangan hanya mengetahui nama platformnya.
2. Tanyakan dengan siapa anak bermain.
Kenali pola interaksi sosialnya.
3. Buat batas waktu yang realistis.
Kesepakatan harus jelas dan konsisten.
4. Gunakan fitur parental control yang tersedia.
Atur sesuai usia dan kebutuhan anak.
5. Perhatikan kualitas tidur dan aktivitas fisik.
Game tidak boleh mengambil seluruh waktu anak.
6. Dorong anak menjadi kreator.
Jika memungkinkan, arahkan ketertarikan mereka pada desain, logika, kreativitas atau coding.
7. Ajarkan keamanan digital.
Anak harus tahu kapan harus berhenti berkomunikasi dan meminta bantuan.
8. Jangan hanya bertanya “berapa lama main?”
Tanyakan juga “apa yang kamu lakukan selama bermain?”
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan bagaimana membuat anak tidak pernah menyentuh Roblox, tetapi bagaimana membuat mereka mampu menggunakan teknologi secara aman, seimbang dan bertanggung jawab.
Itulah keterampilan digital yang akan mereka bawa jauh setelah mereka berhenti bermain game.
Sumber: detikHealth dan keterangan profesional Talenta Mulia terkait psikologi, parenting, serta pendampingan penggunaan gadget dan game.



