Dari Dana Gen Z Jadi Peluang Usaha, Anak Muda Surabaya Kembangkan Bisnis Parfum dan Deodoran
SURABAYA – Ide bisnis terkadang muncul dari obrolan sederhana bersama teman. Dari diskusi tentang keinginan memiliki usaha sendiri, sekelompok anak muda di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, mulai merancang langkah untuk membangun bisnis parfum dan deodoran. Keinginan itu awalnya terbentur satu persoalan klasik: modal. Mereka punya gagasan dan semangat untuk mencoba, tetapi belum memiliki cukup…

SURABAYA – Ide bisnis terkadang muncul dari obrolan sederhana bersama teman. Dari diskusi tentang keinginan memiliki usaha sendiri, sekelompok anak muda di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, mulai merancang langkah untuk membangun bisnis parfum dan deodoran.
Keinginan itu awalnya terbentur satu persoalan klasik: modal. Mereka punya gagasan dan semangat untuk mencoba, tetapi belum memiliki cukup dana untuk memulai produksi. Kesempatan kemudian datang melalui program Dana Gen Z dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Raihan Syah Rafi’, Ketua Karang Taruna RW 8 Kedungdoro, bersama teman-temannya menyusun proposal usaha dan mengajukannya kepada pemerintah. Usulan tersebut akhirnya disetujui dengan bantuan modal sekitar Rp19,8 juta. Dana itu menjadi titik awal bagi mereka untuk mengembangkan produk sekaligus belajar mengelola usaha secara bersama-sama.
Kisah ini memperlihatkan bahwa anak muda tidak selalu harus menunggu memiliki modal besar untuk mulai merintis usaha. Dengan perencanaan, kerja sama, dan pemanfaatan kesempatan yang tersedia, ide sederhana bisa berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Berawal dari Ide, Berlanjut Menjadi Bisnis Bersama
Bagi Raihan dan kawan-kawannya, membangun bisnis bukan sekadar soal menjual produk. Mereka juga ingin menghadirkan kegiatan yang lebih produktif bagi anak muda di lingkungannya.
Setelah mendapatkan dukungan modal, mereka mulai membagi pekerjaan dan menyusun langkah pengembangan usaha. Enam anak muda terlibat dalam pengelolaan bisnis tersebut, dengan pembagian tim yang menangani produk parfum dan deodoran.
Pembagian tugas dilakukan agar kegiatan usaha lebih terarah. Ada yang berfokus pada produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan. Pola kerja sederhana ini menjadi pengalaman awal bagi mereka untuk memahami bahwa menjalankan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar produk yang menarik.
Dalam usaha bersama, setiap anggota memiliki tanggung jawab. Proses tersebut juga mengajarkan pentingnya komunikasi, kedisiplinan, dan kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan.
Raihan dan teman-temannya memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun usaha yang dapat berkembang bersama. Mereka tidak hanya memikirkan bagaimana produk bisa terjual, tetapi juga bagaimana lebih banyak pemuda dapat ikut terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif.
Riset Produk Menjadi Langkah Awal
Mengembangkan parfum dan deodoran ternyata tidak cukup hanya dengan menentukan aroma yang disukai calon pembeli. Produk yang digunakan langsung pada tubuh juga membutuhkan perhatian terhadap formulasi dan keamanan.
Sebelum mengembangkan deodoran, kelompok ini mempelajari sejumlah jurnal ilmiah sebagai referensi. Sementara itu, pengembangan parfum dilakukan secara bertahap melalui eksperimen hingga mereka menghasilkan empat formulasi sendiri.
Proses tersebut menunjukkan bahwa riset memiliki peran penting dalam pengembangan produk. Pelaku usaha perlu memahami bahan yang digunakan, karakteristik produk, serta aspek keamanan sebelum memasarkannya secara lebih luas.
Untuk produk kosmetik, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku juga tidak boleh diabaikan. Pelaku usaha perlu memastikan persyaratan perizinan, notifikasi BPOM jika diwajibkan, serta ketentuan produksi dan pelabelan sesuai kategori produknya.
Langkah ini penting agar pertumbuhan bisnis berjalan beriringan dengan perlindungan konsumen. Kepercayaan pembeli tidak hanya dibangun melalui harga dan aroma, tetapi juga melalui mutu, informasi produk yang jelas, dan tanggung jawab produsen.
Memulai dari Fasilitas yang Tersedia
Keterbatasan fasilitas tidak langsung menghentikan langkah mereka. Kelompok usaha ini memanfaatkan Balai RT Kedungdoro yang disediakan secara gratis sebagai tempat produksi dan penjualan.
Sementara itu, bantuan pemerintah digunakan untuk memenuhi kebutuhan awal usaha, mulai dari bahan baku, peralatan produksi, perlengkapan operasional, hingga perangkat kasir.
Pemanfaatan fasilitas lingkungan tersebut menjadi contoh bagaimana sumber daya yang tersedia dapat membantu usaha rintisan menekan kebutuhan biaya awal. Namun, penggunaan tempat bersama tetap perlu memperhatikan kebersihan, keamanan, dan kesesuaian fasilitas dengan aktivitas produksi.
Untuk memperluas pemasaran, anggota Karang Taruna lainnya juga diberi kesempatan membantu penjualan melalui sistem bagi hasil sebesar 10 persen dari setiap transaksi.
Skema tersebut membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Anak muda yang tidak terlibat langsung dalam produksi tetap dapat belajar mengenai pemasaran dan memperoleh penghasilan dari kegiatan penjualan.
Penjualan Mulai Menunjukkan Hasil
Sekitar dua bulan setelah produk mulai dipasarkan, usaha KDR Parfum dan KDR Deodoran dilaporkan membukukan omzet sekitar Rp4 juta. Penjualan tersebut menjadi sinyal awal bahwa produk mereka mulai mendapatkan respons dari konsumen.
Meski demikian, omzet tidak sama dengan keuntungan bersih. Pelaku usaha tetap perlu menghitung biaya bahan baku, operasional, distribusi, dan pengeluaran lainnya untuk mengetahui kondisi keuangan bisnis secara lebih akurat.
Produk deodoran dipasarkan dengan harga sekitar Rp13.000 hingga Rp15.000, sedangkan parfum dijual mulai Rp55.000, bergantung pada aroma dan ukuran. Pada tahap awal, pemasaran masih mengandalkan jaringan Karang Taruna serta lingkungan pertemanan.
Kelompok ini juga menyiapkan strategi untuk menjangkau konsumen melalui penjualan daring. Langkah tersebut dapat menjadi peluang untuk memperluas pasar, meskipun perlu diikuti dengan pengelolaan pesanan, pelayanan pelanggan, dan promosi yang konsisten.
Dana Gen Z Didorong Menjadi Kegiatan Produktif
Kisah Kedungdoro sejalan dengan arah program Dana Gen Z yang didorong Pemkot Surabaya. Dalam pemberitaan resminya pada 11 September 2026, pemerintah menjelaskan bahwa anggaran kegiatan Gen Z di tingkat RW, sebesar Rp5 juta per bulan, diarahkan untuk aktivitas produktif yang dapat menggerakkan ekonomi dan menghasilkan pendapatan.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi memberi kesempatan bagi pemuda untuk mengembangkan usaha yang berkelanjutan.
Di sisi lain, data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 yang diumumkan OJK, LPS, dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Data ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan lebih luas dibandingkan tingkat pemahaman keuangan masyarakat.
Bagi pengusaha muda, kemampuan mengelola uang menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha. Pencatatan transaksi, pemisahan uang pribadi dan uang bisnis, serta perhitungan modal dan keuntungan perlu dibangun sejak awal.
Pada akhirnya, perjalanan Raihan dan kawan-kawannya bukan hanya tentang parfum dan deodoran. Mereka sedang belajar mengubah gagasan menjadi produk, membagi tanggung jawab, dan membuka kesempatan bagi teman-teman di sekitarnya.
Harapannya, semakin banyak anak muda Surabaya berani mencoba usaha produktif sesuai kemampuan dan potensi lingkungannya. Sebab, ketika ide bertemu kesempatan dan dikelola dengan sungguh-sungguh, sebuah usaha kecil bisa menjadi awal tumbuhnya kemandirian ekonomi bersama.



