Mbah Leginah Meninggal Dunia, Mengapa Sosok “Nenek Online” Bisa Begitu Dekat di Hati Warganet?
Siapa Mbah Leginah? Mbah Leginah adalah perempuan lanjut usia asal Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang dikenal luas setelah video-video kesehariannya bersama Refido Kriska Yutama atau Fido viral di media sosial. Mbah Leginah meninggal dunia pada Sabtu, 3 Oktober 2026 dini hari dalam usia sekitar 85 tahun. Sebelum meninggal, kondisi kesehatannya sempat…

Siapa Mbah Leginah?
Mbah Leginah adalah perempuan lanjut usia asal Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang dikenal luas setelah video-video kesehariannya bersama Refido Kriska Yutama atau Fido viral di media sosial.
Mbah Leginah meninggal dunia pada Sabtu, 3 Oktober 2026 dini hari dalam usia sekitar 85 tahun. Sebelum meninggal, kondisi kesehatannya sempat menurun dan ia mengalami sesak napas. Menurut keterangan keluarga, Mbah Leginah sempat membuat konten bersama Fido pada Jumat sore, beberapa jam sebelum meninggal dunia.
Bagi masyarakat sekitar dan warganet, Mbah Leginah dikenal sebagai sosok yang sederhana, spontan, dan apa adanya. Justru karakter tersebut yang membuat percakapannya bersama Fido terasa natural dan berbeda dari konten hiburan yang dibuat secara sengaja untuk mengejar viral.
Setelah kabar kepergiannya menyebar, banyak pengikut media sosial menyebut diri mereka sebagai “cucu online” Mbah Leginah. Sebutan tersebut menggambarkan kedekatan emosional yang terbentuk antara sang nenek dan penonton yang selama ini rutin mengikuti kontennya.
Mengapa Mbah Leginah Viral?
Popularitas Mbah Leginah tidak lahir dari produksi video yang mewah.
Daya tariknya justru berasal dari percakapan sederhana, spontanitas, dan respons polos ketika berinteraksi dengan Fido.
Salah satu konten yang kemudian banyak dikenang adalah ketika Fido memuji Mbah Leginah masih cantik. Alih-alih menjawab seperti biasa, Mbah Leginah justru secara spontan mengatakan:
“Aku wis tuwek kok ayu, aku njaluk mati.”
Ucapan spontan tersebut menjadi salah satu konten yang membuat nama Mbah Leginah semakin dikenal di media sosial. Fido kemudian menceritakan kembali momen tersebut setelah Mbah Leginah meninggal dunia.
Kelucuan dalam konten Mbah Leginah juga tidak bergantung pada skenario yang rumit. Ekspresi wajah, jawaban spontan, bahasa Jawa sehari-hari, hingga cara berinteraksi dengan Fido menjadi daya tarik tersendiri.
Konten-konten tersebut kemudian menyebar melalui TikTok dan Instagram hingga membuat Mbah Leginah dikenal lebih luas.
Popularitas itu bahkan membuat sejumlah figur publik ikut mengenal sosoknya. Salah satunya Denny Caknan yang pernah memberikan hadiah berupa perhiasan emas kepada Mbah Leginah.
Kisah Mbah Leginah Bersama Refido
Hubungan Mbah Leginah dan Refido menjadi bagian penting dari perjalanan viralnya sang nenek.
Namun, ada satu fakta yang perlu diluruskan.
Refido bukan cucu kandung Mbah Leginah.
Refido merupakan tetangga Mbah Leginah sekaligus teman dekat Ade, cucu kandung Mbah Leginah. Karena hubungan mereka sangat dekat, Mbah Leginah kemudian memperlakukan Refido seperti cucunya sendiri dan bahkan memanggilnya “cucuku”.
Kedekatan tersebut kemudian terekam dalam berbagai video.
Refido menjadi sosok yang sering mengajak Mbah Leginah berbincang, membuat konten, dan membagikan momen keseharian sang nenek kepada pengikutnya.
Interaksi keduanya terasa seperti percakapan keluarga sehari-hari.
Tidak ada jarak antara figur publik dan penonton. Mbah Leginah tampil sebagai dirinya sendiri, sementara Fido menjadi orang yang menjembatani kehidupan sederhana sang nenek dengan dunia media sosial.
Dalam perkembangannya, Fido juga disebut membantu menyalurkan donasi dari penggemar maupun pendapatan endorsement untuk kebutuhan Mbah Leginah.
Dari sinilah hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Mbah Leginah bukan lagi hanya dikenal oleh tetangga atau keluarga.
Ia menjadi “simbah online” bagi banyak orang yang tidak pernah bertemu dengannya secara langsung.
Konten Terakhir Mbah Leginah Sebelum Meninggal
Kabar kepergian Mbah Leginah terasa semakin mengejutkan karena beberapa jam sebelum meninggal, ia masih membuat konten bersama Fido.
Menurut keterangan putrinya, Anna, Mbah Leginah masih membuat konten pada Jumat sore, 2 Oktober 2026, di rumahnya. Fido juga membenarkan bahwa dirinya masih bersama Mbah Leginah untuk membuat konten pada sore tersebut.
Setelah itu, kondisi Mbah Leginah memburuk.
Ia kemudian meninggal dunia pada Sabtu dini hari.
Jarak waktu yang sangat singkat antara konten terakhir dan kabar duka membuat video tersebut memiliki makna berbeda bagi para pengikutnya.
Bagi warganet, apa yang sebelumnya hanya merupakan video hiburan kini menjadi salah satu rekaman terakhir Mbah Leginah ketika masih hidup.
Karena itu, video-video lama Mbah Leginah kembali banyak dibagikan setelah kabar kematiannya menyebar.
Profil Mbah Leginah
Berikut sejumlah informasi yang diketahui mengenai Mbah Leginah:
| Profil | Keterangan |
|---|---|
| Nama yang dikenal publik | Mbah Leginah |
| Usia | Sekitar 85 tahun |
| Asal | Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah |
| Dikenal melalui | Konten video bersama Refido |
| Refido | Tetangga dan sosok yang dianggap seperti cucu |
| Platform | TikTok dan Instagram |
| Karakter yang dikenal publik | Polos, spontan, sederhana dan humoris |
| Sebutan dari penggemar | “Simbah online” / “Mbah online” |
| Waktu meninggal | Sabtu, 3 Oktober 2026 dini hari |
| Pemakaman | Sabtu, 3 Oktober 2026 |
Informasi mengenai usia, domisili, hubungan dengan Refido, serta aktivitas konten tersebut diperoleh dari keterangan keluarga, Refido, dan pemberitaan media yang mengikuti perkembangan kabar duka Mbah Leginah.
Pesan Terakhir Mbah Leginah yang Terus Dikenang
Setelah Mbah Leginah meninggal dunia, salah satu ucapannya yang kembali banyak dibicarakan adalah:
“Ampun kesandung, ampun keserimpet.”
Kalimat berbahasa Jawa tersebut menjadi salah satu ciri khas yang melekat dalam konten Mbah Leginah bersama Refido. Ucapan tersebut kemudian kembali dikenang warganet setelah kabar kematiannya.
Namun, penting untuk memberikan konteks.
Kalimat tersebut tidak tepat disebut sebagai “pesan terakhir” secara harfiah, karena tidak ada sumber yang memastikan bahwa itu merupakan ucapan terakhir Mbah Leginah sebelum meninggal.
Lebih tepat menyebutnya sebagai salah satu pesan atau ucapan khas Mbah Leginah yang paling dikenang warganet.
Dalam sejumlah pemberitaan, kalimat tersebut dimaknai sebagai ungkapan doa agar seseorang terhindar dari kesulitan atau selalu mendapatkan keselamatan. Karena sering muncul dalam konten Mbah Leginah, kalimat tersebut akhirnya menjadi bagian dari identitasnya di mata para pengikut.
Kini, setelah Mbah Leginah tiada, ucapan sederhana itu memiliki makna emosional yang berbeda.
Kalimat yang dahulu terdengar seperti bagian dari percakapan sehari-hari kini menjadi salah satu kenangan yang membuat para “cucu online” kembali mengingat sosok nenek yang pernah menghibur mereka.
Mengapa Kisah Mbah Leginah Begitu Membekas?
Ada alasan mengapa kepergian Mbah Leginah mendapatkan perhatian luas.
Ia tidak membangun popularitas melalui kemewahan.
Ia dikenal melalui kesederhanaan.
Warganet melihat seorang nenek menjalani keseharian, bercanda dengan orang yang dianggap seperti cucunya, berbicara menggunakan bahasa yang akrab, dan memberikan respons spontan.
Hubungan tersebut akhirnya membentuk kedekatan emosional antara Mbah Leginah dan penontonnya.
Ketika sosok yang selama ini muncul di layar tiba-tiba tidak ada lagi, penonton tidak hanya kehilangan seorang pembuat konten.
Mereka juga kehilangan bagian dari rutinitas hiburan dan kenangan digital yang selama ini mereka ikuti.
Itulah yang membuat istilah “cucu online” menjadi begitu kuat setelah kepergian Mbah Leginah.
Video-video yang sebelumnya dibuat untuk menghibur kini berubah menjadi arsip kenangan.
Dan bagi banyak warganet, Mbah Leginah mungkin tidak pernah benar-benar mereka temui.
Namun, melalui layar ponsel, sosoknya pernah hadir dalam keseharian mereka.
Selamat jalan, Mbah Leginah.



